Apa Benar Indonesia Biang Utang?

“Apa? Utang Indonesia sudah lewat Rp 3600 triliun? Kok naik terus sih? Pemerintah ngapain aja sih? Pasti dikorupsi semua”. Pastinya kamu sering disuguhkan oleh pertanyaan-pertanyaan semacam ini setiap kali topik utang negara Indonesia muncul dalam pembicaraan.

Walaupun tema pembicaraan ini kerap muncul, sayangnya hanya sedikit publik Indonesia yang memiliki fondasi kuat untuk dapat benar-benar berbicara mengenai utang Negara dalam koridor ilmu ekonomi yang benar.

Berbicara Utang Negara = Berbicara Konteks

Banyak orang yang berbicara mengenai utang Negara degan mengambil suatu angka yang dipublikasikan secara mentah-mentah. Contohnya saja ketika pemberitaan mengatakan bahwa utang Negara Indonesia menembus angka Rp 3.000 triliun tahun lalu (Source: detik.com), banyak orang yang lalu mencerca bahwa pemerintah Indonesia tidak berhati-hati dalam menjaga keuangan Negara.

Sekarang bila penulis menyuruh kamu untuk menilai kesehatan finansial seseorang yang memiliki utang sebesar Rp 5 juta, dapatkah kamu menentukan tingkat risiko finansial orang tersebut? Tentu saja tidak bisa, karena jelas kamu tidak memiliki cukup info untuk menarik suatu kesimpulan dalam keadaan ini. Bagaimana bila penulis menambahkan info bahwa gaji bulanan orang tersebut adalah Rp 2 juta? Bagaimana pula bila penulis mengatakan bahwa pemasukan bulanan orang tersebut adalah Rp 20 juta? Tentu saja penilaian kamu atas tingkat kesehatan finansial orang tersebut akan sangat tergantung dengan jumlah utang dibandingkan dengan jumlah pemasukan yang dimiliki oleh orang tersebut. Begitu pula seharusnya yang harus dilakukan bila kita berbicara mengenai angka secara umum, bukan hanya masalah utang saja. Kamu selalu memerlukan suatu benchmark atau tolak ukur untuk menimbang seberapa signifikan data yang kamu punya.

Mengambil contoh ilustrasi yang penulis berikan tadi, skenario pertama menunjukkan posisi utang yang berbahaya dan berkemungkinan gagal bayar pada angka utang sebesar 250% dari total pemasukan. Di sisi lain, jumlah utang yang sama yaitu sebesar Rp 5 juta hanya berupa 25% dari total pemasukan pada skenario ke dua.

Yang memperihatinkan adalah banyak orang yang memiliki komentar pedas terhadap kesehatan finansial Indonesia tanpa mengetahui bagaimana jumlah utang Indonesia berbanding dengan Produk Domestik Brutonya (PDB). Sebagai catatan, PDB didefinisikan sebagai nilai pasar seluruh barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dalam suatu jangka waktu (dalam kasus ini kita akan menggunakan PDB tahunan). Seperti dicatatkan pada tahun 2016, rasio utang dan PDB Indonesia adalah 27,9% (Source: detik.com).

Bila anda masih ingat yang penulis katakan tadi, setiap kali kita berbicara mengenai suatu angka, maka kita selalu memerlukan angka-angka lainnya untuk menjadi tolak ukur. Dan bila anda menanyakan “Jadi angka 27,9% itu besar atau kecil?” dalam benak anda, maka anda berada pada pola berpikir yang tepat.

Pembanding 1: Rasio Utang Terhadap PDB Negara Lain

Tolak ukur pertama yang akan kita gunakan adalah rasio utang dari Negara-Negara lain yang memiliki profil ekonomi kurang lebih mirip dengan Indonesia dan juga Negara-Negara di kawasan Asia. Anda dapat melihat rasio utang Negara-Negara lain pada grafik di bawah ini:

Bila kita membandingkan rasio utang Indonesia dengan Negara-Negara di atas, justru kita mendapatkan sebuah gambaran yang berbeda dari apa yang sering digaung-gaungkan media dan khalayak ramai. Indonesia malah cenderung lebih konservatif dalam meminjam dana dari pihak internasional.
Implikasi yang dapat muncul justru berbeda dari apa yang awalnya kita pikirkan, yaitu apakah angka yang konservatif ini berarti Indonesia sudah melewatkan beberapa kesempatan investasi strategis yang sebetulnya dapat dijalankan dengan mengambil utang?

Pembanding 2: Riwayat Rasio Utang Terhadap PDB Indonesia

Salah satu pembanding yang umum digunakan ketika menilai kualitas suatu indikator adalah dengan melihat riwayat pergerakan indikator tersebut. Kamu dapat melihat pergerakan rasio utang Indonesia di bawah ini.

Seperti yang dapat kita lihat, rasio utang Indonesia memiliki bentuk huruf U dari tahun 2007 hingga 2016. Perlu diingat juga bahwa tren rasio utang di dunia adalah cukup besar pada sekitar tahun 2006-2008 ketika terjadi krisis ekonomi global pada tahun 2008 yang dimulai dengan pecahnya bubble di pasar perumahan Amerika Serikat.

Dari gambar tersebut, jelas bahwa Indonesia telah menunjukkan upaya yang keras untuk mengurangi jumlah utang yang dimilikinya. Namun begitu, kenaikan rasio utang yang terlihat dari tahun 2012 dan seterusnya memang cukup pantas untuk menimbulkan pertanyaan. Buat apa sih Indonesia meningkatkan jumlah dan rasio utangnya?

Utang Produktif & Utang Tidak Produktif

Sekali lagi konteks menjadi sangat penting ketika kita berbicara mengenai utang. Tentu saja ada bedanya bila seseorang berutang Rp 10 juta untuk pergi liburan ke Bali dan bila utang tersebut untuk membuka usaha rumah makan. Yang satu tidak menghasilkan, sedangkan yang satu lagi menghasilkan. Yang satu mungkin malah menimbulkan utang lebih banyak hingga Rp 5 juta lagi, sedangkan yang satu lagi mungkin bisa memberikan uang kembali Rp 20 juta.

Catatan mental inilah yang perlu kita ingat ketika menimbang keuntungan dari berutang. Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa sebagian besar utang ini mengalir ke pendanaan infrastruktur dan cicilan utang sebelumnya (Source: detik.com).

Proyek-proyek infrastruktur besar seperti MRT, LRT, jalan tol, jembatan, dan lain sebagainya pada umumnya adalah sebuah bentuk investasi produktif yang dapat menimbulkan efek multiplier ke depannya. Efek multiplier adalah bertambahnya uang atau produk yang dihasilkan yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah modal yang diinjeksikan di awal. Hal ini disebabkan oleh terpicunya kegiatan ekonomi lainnya karena proyek tersebut. Sebagai contoh, ketika pemerintah membangun sebuah jalan raya, maka akan banyak sekali kegiatan ekonomi yang muncul dari proyek tersebut seperti munculnya lapangan pekerjaan baru (teknisi, tukang aspal, pemilik restoran, tukang parkir, dll), keuntungan untuk berbagai sector (transportasi, bahan bangunan dan industri, dll), dan lain sebagainya.

Proyek MRT Jakarta
Proyek MRT Jakarta yang Dibanggakan Jokowi (Source: detik.com)

Artinya, utang tidak selalu berarti buruk. Utang juga dapat berarti bahwa suatu Negara berusaha mempercepat laju ekonominya dan upayanya dalam menyejahterakan masyarakatnya.

S&P Global Ratings, sebuah perusahaan ternama yang bertugas memberikan penilaian terhadap kelayakan investasi dan mendapatkan pinjaman ke suatu entitas baru saja memberikan status layak investasi kepada Indonesia pada bulan May 2017 lalu (Source: Bloomberg). Penilaian ini seirama dengan label positif yang diberikan oleh Moody’s Investors Service dan Fitch Ratings. Langkah ini menunjukkan bahwa ketiga perusahaan rating terbesar di dunia percaya bahwa Indonesia memiliki basis ekonomi yang kuat dengan manajemen keuangan yang baik. Mereka percaya bahwa risiko meminjamkan dana ke Indonesia sudah berkurang secara signifikan dan sistematis. Lalu, bila dunia saja percaya pada Indonesia, masa anda tidak?

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.