Hary Tanoe Tersangka, Masuk Akal?

“Saya sudah mendapatkan SPDP-nya, di mana di dalam SPDP itu sudah ditetapkan Hary Tanoe sebagai tersangka”, ujar Yulianto di Kejaksaan Agung pada hari Rabu 21 Juni 2017 lalu (Source: CNN Indonesia). Lantas saja pernyataan ini membuat geger publik. Apa yang sudah diperbuat oleh CEO MNC Group ini sehingga beliau dijadikan tersangka?

Duduk Perkara

Ternyata, status tersangka ini datangnya dari pesan singkat yang dikirimkan oleh Hary Tanoe kepada Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Yulianto. Yulianto mengaku mendapatkan pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal pada tanggal 5 Januari 2016. Berikut adalah isi dari pesan singkat tersebut:

“Mas Yulianto, kita buktikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Siapa yang profesional dan siapa yang preman. Anda harus ingat kekuasaan itu tidak akan langgeng. Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power. Catat kata-kata saya di sini, saya pasti jadi pimpinan negeri ini. Di situlah saatnya Indonesia dibersihkan.”

Yulianto yang pada awalnya tidak menggubris pesan singkat tersebut malah mendapatkan dua pesan serupa pada tanggal 7 dan 9 Januari 2016 melalui aplikasi chat WhatsApp. Bedanya, kali ini pesan tersebut ditambahi embel embel “Kasihan rakyat yang miskin makin banyak, sementara negara lain berkembang dan semakin maju” pada akhir pesannya. Yulianto tidak tinggal diam kali ini dan melacak identitas pengirim pesan tersebut, di mana akhirnya diketahui bahwa Hary Tanoelah yang ternyata mengirimkan pesan tersebut (Source: Kompas).

Yulianto Ancaman
Jaksa Agung Yulianto menunjukkan sms ancaman dari Hary Tanoe (Source: detik.com)

Mengapa Hary Tanoe Mengirim Pesan Tersebut?

Yang kemudian menjadi pertanyaan besar adalah alasan dibalik dikirimkannya pesan ini kepada Yulianto. Ada spekulasi bahwa pengiriman pesan ini terkait dengan penanganan kasus restitusi pajak perusahaan telekomunikasi PT Mobile-8 Telecom yang melibatkan Hary Tanoe. Penanganan kasus dugaan korupsi yang berlangsung pada tahun 2007-2009 ini ternyata diketuai oleh Yulianto.

Dugaan korupsi ini sendiri mencuat setelah penyidik Kejagung menemukan transaksi bodong antara PT Mobile-8 Telecom dan PT Djaya Nusantara selama tahun 2007-2009. Hasil Audit BPK menunjukkan bahwa tindakan ini ditakar telah merugikan Negara sebesar Rp 86 miliar (Source: detik.com).

Kasus ini sebenarnya sudah dibawa ke praperadilan pada tahun 2016 lalu. Akan tetapi, tuntutan Kejagung kalah dan kasus tersebut akhirnya dihentikan. Tidak tinggal diam, tim Yulianto terus melakukan penyidikan terhadap kasus ini yang berakhir dengan dibukanya kembali kasus ini pada Januari 2017 lalu setelah Kejagung berhasil menemukan bukti-bukti baru (Source: Tribun News).

Pantaskah Hary Tanoe Dijadikan Tersangka?

Untuk dapat melihat pantas tidaknya status tersangka Hary Tanoe, pertama-tama kita harus melihat pasal apa yang menjerat ketua Perindo ini. Pasal yang digunakan untuk mempolisikan Hary Tanoe ternyata adalah Pasal 29 UU ITE yang berbunyi:
“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.”

Dengan ancaman hukuman yang diatur dalam Pasal 45 ayat (3) UU ITE:
“Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).”

1. Bersifat Umum dan Jamak

Bila kita memperhatikan pesan yang dikirimkan oleh Hary Tanoe secara seksama, sebenarnya sangat sulit bagi kita untuk menemukan unsur yang dapat dibilang sebagai sebuah ancaman pribadi kepada Yulianto. Alasannya, pernyataan yang dibuat oleh Hary Tanoe sendiri sifatnya adalah umum dan menggunakan kata-kata dalam bentuk jamak. Bila kita kembali mengutip pesan Hary Tanoe, “Saya masuk ke politik antara lain salah satu penyebabnya mau memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang suka abuse of power”, jelas terlihat bahwa pernyataan tersebut tidak ditujukan secara pribadi kepada Yulianto secara sintaks dan semantik. Kesan yang timbul adalah malah seharusnya Yulianto tidak merasa takut apabila dia bukan termasuk golongan korup yang ingin dibersihkan oleh Hary Tanoe dalam pernyataannya.

Hary Tanoe sendiri juga mengeluarkan tanggapan seirama mengenai digunakannya pesan ini sebagai barang bukti untuk menjadikan Hary Tanoe sebagai tersangka. Hary Tanoe berujar, “Memberantas kan normatif, memberantas korupsi yang dibuat oknum-oknum. Kata-kata oknum itu yang harus digarisbawahi. Bukan tunggal, bukan ditujukan kepada seseorang yang pasti” (Source: Liputan 6).

2. Tidak Memenuhi Unsur Ancaman Kekerasan dan Menakut-Nakuti

Selain fakta bahwa pesan CEO MNC Group ini susah untuk ditafsirkan sebagai sebuah ancaman, perlu diketahui juga bahwa Pasal 29 UU ITE juga hanya mengatur ancaman kekerasan. Sama sekali tidak ada unsur yang bersifat ancaman kekerasan seperti membunuh, melukai, dan lain sebagainya di dalam pesan yang menjadi topik hangat ini.

Gedung MNC Group
Gedung MNC Group (Source: mnc.co.id)

3. Tapi Secara Pragmatik Dapatkah Pesan Tersebut Dinyatakan Sebagai Ancaman?

Bagi anda yang kurang memahami makna dari pragmatik, secara umum pragmatik merupakan anak dari bidang ilmu bahasa. Di dalamnya, kita dapat mempelajari bagaimana konteks dapat berkontribusi dalam pengartian rentetan kata-kata dan bahasa.

Bila kita melihat kasus ini secara lebih utuh, ada kemungkinan bahwa pengiriman pesan tersebut dapat diartikan sebagai ancaman kepada Yulianto. Konteks yang dapat berkontribusi dalam tafsiran ini adalah bagaimana Hary Tanoe mengirim pesan ini sebanyak tiga kali kepada Yulianto dalam jarak waktu yang singkat, seakan Hary Tanoe meminta atau mengharapkan suatu tanggapan maupun reaksi atas pernyataannya.

Selain itu, konteks waktu juga dapat memperkuat tafsiran ini. Bila anda masih ingat, Pesan ini dikirim saat Yulianto masih memimpin penanganan dugaan kasus korupsi yang melibatkan Hary Tanoe. Walaupun bahasa yang digunakan Hary Tanoe sifatnya adalah jamak, bisa juga secara implisit Hary Tanoe mengancam Yulianto bahwa Hary Tanoe akan melakukan retaliasi apabila dia berhasil memegang kunci pemerintahan.

Akan tetapi, beban pembuktian ada di tangan penuntut untuk membuktikan penafsiran ini. Tentu saja pembuktian ini juga akan menjadi tugas yang sangat berat mengingat tautan konteks tersebut hanyalah sebuah spekulasi.
Jadi, apakah menurut anda Hary Tanoe bersalah telah mengancam Yulianto atau tidak?

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.