Belajar Bernegara dari Badminton

Bayangkan anda sedang menonton siaran langsung pertandingan badminton di televisi. Jagoan anda dari Indonesia (sebut saja Gunawan dan Robert) sedang bersusah payah melawan musuh bebuyutannya dari negeri Cina di partai final kejuaraan dunia. Bermain cukup apik, setelah rally-rally panjang akhirnya pasangan dari Indonesia unggul 20-17 dan mendapatkan match point. Detak jantung anda mulai berdegup dengan kencang, hanya satu poin lagi hingga Indonesia akan mendapatkan gelar juara dunia. Gunawan kemudian melakukan service, namun sayang sekali menyangkut di net. Wasit kemudian mengkonfirmasi skor dengan lantang “20-18, pindah service. Anda merasa kesal, bagaimana bisa Gunawan melakukan kesalahan simpel seperti itu di saat-saat genting seperti ini. Walaupun begitu, anda tetap berteriak “Indonesia! Indonesia” di depan televisi dan berharap semangat anda dapat tersalurkan ke pasangan Indonesia. Pasangan Cina kemudian membuka rally dengan sebuah flick serve yang sempat mengecoh Gunawan, akan tetapi dengan semangat untuk membayar kesalahannya barusan, Gunawan berusaha sekuat tenaga membalikkan bola dan menjaga agar rally tetap berjalan. Dengan pontang-panting, akhirnya  sebuah kesempatan emas datang. Bola tanggung pengembalian dari pasangan Cina sekarang ada tepat di atas net. Robert kemudian buru-buru berusaha menyambar bola di depan net. Tapi apa daya, sekali lagi bola malah menyangkut di net, dan kedudukan menjadi 20-19. Rally dimulai kembali, anda bisa merasakan jantung anda seperti mau copot dari tempatnya. Gema teriakan “Indonesia! Indonesia!” juga terdengar semakin kencang dari penonton yang tertangkap kamera. Dan akhirnya drop shot dari Robert membuka peluang yang menyebabkan pengembalian tanggung dari pasangan Cina. Gunawan kemudian melompat dan melakukan smash yang tepat jatuh di tengah lapangan pasangan Cina. Sontak anda melompat dari kursi anda penuh dengan rasa bangga atas pencapaian putra bangsa ini di kancah dunia.

Bendera merah putih berkibar di tanah asing beriringkan lagu Indonesia Raya. Anda melihat pasangan jagoan anda saling berangkulan sambil merayakan kekompakan mereka selama turnamen seminggu terakhir. Sekilas anda menyadari kontrasnya warna kulit kedua pemain kesayangan anda yang berketurunan Jawa dan Tionghoa. Tapi apalah artinya itu, dan anda berterima kasih kepada kedua pahlawan Indonesia ini di dalam hati anda.

Badminton dan Bernegara

Di tengah tensi antar ras dan agama yang belakangan sering muncul, tampaknya Badminton menjadi salah satu komoditas yang dapat menjadi lem penguat masyarakat Indonesia. Di tengah intensnya pertandingan raket tercepat di dunia ini, hal-hal lain akan ditinggalkan di belakang. Hanya ada  satu hal yang ada di pikiran pemain, “Menang untuk membanggakan Negara”. Rakyat Indonesia juga hanya melihat dan membela satu hal di lapangan, “Pemain Indonesia”, tidak peduli suku, agama, ras, dan antargolongan.

Bukankah ini esensi dari “Bhinneka Tunggal Ika” yang selalu menjadi moto Indonesia? Walaupun kita berbeda-beda, kita adalah satu jua. Di saat pemain yang satu melakukan kesalahan, pemain satu lagi akan berusaha untuk mengcover kesalahan partnernya. Dan ketika kedua pemain dalam posisi tertekan dan membuat kesalahan, rakyat Indonesia yang ada di belakang mereka tidak akan menjatuhkan mereka dan terus menyemangati para pemain. Ini semua demi satu tujuan, harumnya nama Indonesia.

Tentunya atmosfer ini akan menjadi sangat baik bila dapat dibawa ke dalam keseharian kita sebagai rakyat Indonesia. Atmosfer di mana tidak adanya sikap saling menjatuhkan antar, dan adanya keserta-mertaan dan rasa percaya untuk saling menopang satu sama lain.

[Baca: Borok Indonesia Dalam Satu Video: Perhakiman Jalanan, Penegak Hukum vs Rakyat Sipil & SARA]

Ketika kita dapat berdiri sejajar satu sama lain, maka percayalah bahwa ada banyak hal hebat yang akan tercipta.  Mari sekali lagi kita ambil contoh dari ganda-ganda badminton Indonesia. Di artikel ini, kita akan melihat pasangan-pasangan Indonesia  dari etnis dan latar belakang berbeda yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

1. Tontowi Ahmad – Liliyana Natsir

Tontowi dan Liliyana
Tontowi Ahmad (kiri) dan Liliyana Natsir (kanan) (Source: Kemenkopmk.go.id)

Siapa yang tidak tahu kedua pahlawan Indonesia ini? Tontowi dan Liliyana sukses menjadi ganda campuran pertama dari Indonesia yang memenangkan medali emas di Olimpiade pada tahun 2016 lalu. Liliyana yang juga akrab dipanggil sebagai butet ini juga dulunya memenangkan medali perak pada Olimpiade 2008 di Beijing bersama dengan mantan pasangannya Nova Widianto yang sekarang menjadi pelatih Tontowi/Liliyana.

Sungguh banyak yang dapat dipelajari dari mereka. Butet sukses menyimbolkan emansipasi gender sebagai pemimpin dari duo ini. Butet juga dapat selalu memberikan arahan kepada Tontowi yang terkadang suka terlihat nervous. Di sisi lain, Towi selalu dapat menutupi kelemahan dari Liliyana, khususnya pada kejuaraan China Open dan Hongkong Open 2016 kemarin. Walaupun harus pontang-panting mengcover lapangan karena cedera Liliyana, duo ini sukses membawa pulang gelar tertinggi dari turnamen-turnamen tersebut.

2. Markis Kido – Hendra Setiawan

Hendra dan Markis
Hendra Setiawan (kiri) dan Markis Kido (kanan) (Source: Zimbio)

Duo Indonesia yang satu ini sukses mengumandangkan lagu Indonesia Raya pada Olimpiade tahun 2008 di Beijing. Kido dan Hendra selalu terlihat sangat kompak di lapangan. Hendra yang dikatakan sebagai salah satu pemain net terbaik di dunia selalu berhasil memberikan umpan-umpan bola yang empuk untuk diberikan Kido yang merupakan spesialis pemain belakang. Duo yang juga mantan juara dunia ini juga selalu seperti dapat membaca pikiran satu sama lain sehingga mereka bisa kembali ke posisi favorit masing-masing.

Perlu diingat, Hendra juga sempat memenangkan kejuaran dunia sebanyak dua kali bersama pasangannya Mohammad Ahsan sebelum Hendra pensiun dari pelatnas.

3. Gresya Polii – Nitya Krishinda Maheswari

Gresya dan Nitya
Gresya Polii (kiri) dan Nitya Krishinda Maheswari (kanan) (Source: Badminton Indonesia)

Kekompakan sepertinya merupakan kunci dari pasangan putri Indonesia ini sehinggan mereka bisa menduduki ranking 2 ganda putri dunia dan memenangkan Asian Games tahun 2014 lalu. Menutupi kelemahan satu sama lain adalah kekuatan duo ini. Mereka konsisten masuk ke Semi Final pertandingan-pertandingan berlevel Super Series pada tahun 2016 lalu walaupun Greysia sering terlihat menggunakan strapping anti cedera di tangan kanannya. Sekarang giliran Nitya yang harus dioperasi lutut karena cedera, Greysia tetap terlihat suportif kepada partnernya ini walaupun artinya ranking mereka akan turun tajam. Dari Instagram Greysia, terlihat bahwa dia terlihat sangat perihatin terhadap keadaan Nitya dan berharap mereka dapat segera kembali ke lapangan olahraga yang mereka cintai.

4. Kevin Sanjaya Sukamuljo – Marcus Fernaldi Gideon

Marcus dan Kevin
Marcus Fernaldi Gideon (kiri) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo (kanan) (Source: Juara.net)

Sebelum anda protes, penulis tahu bahwa Kevin dan Gideon kedua-duanya adalah keturunan Tionghoa. Akan tetapi, ada sesuatu hal yang sangat menarik pada saat kedua pemain ini memenangkan kejuaraan bergengsi All England pada tanggal 12 Maret 2017 lalu. Sehari setelah memenangkan kejuaraan badminton tertua di dunia tersebut, keduanya membuat update di akun Instagram masing-masing. Yang menarik adalah di mana Kevin mengupload foto dengan caption “We are Indonesia” dan Gideon mengupload foto cuitan Jokowi atas kemenangan mereka dengan caption “We are Indonesian(s)”. Ini tentunya adalah sebuah simbol kecintaan yang begitu besar dari mereka terhadap Indonesia. Apalagi bila anda berpikir bahwa mereka harus bangun subuh-subuh setiap hari untuk menjalani latihan keras demi Indonesia. Jadi, akankah anda masih bertanya “Agamanya apa ya?” atau “Oh, Cina ya?”.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.