SEA Games: Mengeratkan atau Meregangkan?

Berakhir sudah perhelatan akbar yang melibatkan atlet-atlet terbaik dari 11 negara di Asia tenggara. SEA Games ke-29 yang diselenggarakan di Malaysia ini telah sukses dimenangkan oleh tuan rumah yang berhasil menyabet 145 medali emas dari total 406 medali emas yang diperebutkan (Source: SEA Games 2017 Official Website).

Sayangnya, tidak semua pihak pulang ke negaranya dengan perasaan puas karena telah dapat memberikan kemampuan terbaiknya di sebuah acara yang tertata dengan baik. Bagaimana sih keberlangsungan SEA Games yang berlangsung dari 19-30 Agustus 2017 ini?

Awal yang Tidak Semegah Pembukaannya

Bagi yang menonton siaran upacara pembukaan SEA Games ke-29 (Source: Sport Singapore) yang berlangsung diselenggarakan di Stadium Nasional di Bukit Jalil, tentu saja pasti banyak yang terkesima dengan kemegahan yang dihadirkan oleh tuan rumah untuk menyambut atlet-atlet terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Tapi tidak berselang lama, muncul sebuah pertanyaan besar ketika orang-orang melihat booklet SEA Games yang diselenggarakan Malaysia ini. “Sejak kapan sih Polandia jadi bagian dari Asia Tenggara?” sepertinya adalah pertanyaan yang muncul ketika melihat bendera putih-merah yang ada dalam booklet tersebut. Sayang beribu sayang, ternyata bendera tersebut dimaksudkan untuk Indonesia yang seharusnya benderanya dilambangkan dengan warna merah-putih.

Tidak berhenti di sana, sebuah koran nasional Malaysia, Metro Ahad malah ikut-ikutan membalik bendera Indonesia dalam infografik di dalam artikel  berjudul “Mencari Jagoan” yang diterbitkan tepat sehari setelah kisruh booklet ini terjadi (Source: CNN).

Bendera Terbalik di Koran Nasional Malaysia (Source: theaseanpost.com)

Lantas saja kesalahan fatal ini membuat naik pitam rakyat Indonesia yang merasa terhina. Terlebih lagi, seharusnya kesalahan seperti ini dapat dihindarkan mengingat SEA Games adalah acara yang sangat besar dan revisi booklet tersebut seharusnya sudah dilakukan berulang kali (Source: Channel NewsAsia).

Untung saja pihak Malaysia segera meminta maaf kepada Indonesia melalu Menteri Belia dan Sukan (Pemuda dan Olahraga) mereka, Khairy Jamaluddin, tepat sehari setelah upacara pembukaan SEA Games ke-29 (Source: Kompas). Walaupun begitu, permintaan maaf ini sayangnya tak cukup untuk meredam amarah publik Indonesia yang sudah terlanjur merasa terhina, terbukti dengan diserangnya situs-situs Malaysia oleh hackers yang datangnya dari Indonesia (Source: TribunNews).
Tanpa harus menunjukkan jari ke siapapun juga, kejadian ini tentulah sangat disayangkan. SEA Games yang seharusnya merupakan sarana bagi negara-negara di Asia Tenggara untuk mengeratkan hubungan satu sama lain malah diawali dengan sebuah insiden yang justru menjauhkan peserta SEA Games dari tujuan utama acara tersebut.

Salah Bendera Babak Dua

Bukannya belajar dari kesalahan, penyelenggara SEA Games ke-29 terus menampilkan bendera-bendera yang salah untuk berbagai negara berulang kali. Hebatnya lagi, sebuah stasiun televisi di Malaysia dengan spektakuler menyiarkan perolehan medali sementara dengan menampilkan 8 bendera yang salah dari total 11 negara.

Coba tebak kira-kira 8 bendera mana saja yang salah?

Puncaknya? Malaysia bahkan sukses menampilkan bendera yang salah untuk negaranya sendiri. Kejadian ini berlangsung pada event final renang 50m gaya bebas, manakala stasiun televisi Malaysia menyorot perenangnya sendiri, Keith Lim Kit Sern. Seperti yang kamu dapat lihat di gambar di bawah ini, nama Keith ditempeli bendera Singapura walaupun dia berenang untuk membela Malaysia.

Indikasi Keberpihakan

Walaupun terkesan berantakan, mungkin beberapa orang bisa maklum dengan kesalahan-kesalahan seperti yang disebutkan di atas karena ukuran acara yang harus diatur oleh panitia. Akan tetapi, yang tidak dapat ditolerir lagi oleh banyak orang adalah bagaimana kerap kali juri-juri dari pihak Malaysia terkesan menganak emaskan pemainnya sehingga merugikan atlet-atlet dari negara lain.

Contohnya saja di event pencak silat cabang ganda. Manajer tim kontingen pencak silat Indonesia, Edhy Prabowo, menuduh bahwa pasangan dari Malaysia, Taqiyuddin bin Hamid dan Rosli bin Mohd Sharif, diberikan poin yang terlampau tinggi. Menurut Edhy, nilai yang diberikan oleh juri tidaklah wajar. Edhy juga menambahkan bahwa tidak pernah dalam sejarah pencak silat terjadi penggelembungan skor setinggi ini. “Mereka bahkan tidak pantas jadi juara ke-3, bahkan tidak ke-4”, kata Edhy yang kecewa. Yolla Primadona dan Hendy yang merupakan juara bertahan dari cabang ini juga dikabarkan sangat marah ketika mengetahui mereka kalah dari pasangan Malaysia dengan skor jauh 582 dan 554. Yolla mengatakan bahwa dari 5 kali bertanding dengan pasangan Malaysia ini sebelumnya, tak pernah sekalipun pasangan Malaysia ini dapat memenangkan medali. Angka 582 kemudian menjadi sangat mencurigakan di mata Edhy yang mengetahui bahwa angka 570 saja susah sekali untuk didapat, apalagi 582 (Source: Channel NewsAsia).

Indikasi kecurangan ini juga tidak terbatas di cabang pencak silat saja. Kontingen takraw Indonesia juga merasa dicurangi ketika mereka bertemu tim dari Malaysia. Menpora Imam Nahrawi menyatakan bahwa terdapat sebuah intimidasi sistemik yang dilakukan wasit terhadap tim putri Indonesia dari awal pertandingan melawan Malaysia berlangsung. Tim putri Indonesia dihujani foul oleh wasit yang juga meniadakan protes dari pemain Indonesia. Tim putri Indonesia yang saat itu setang unggul 16-10 dari Malaysia pada akhirnya tidak dapat mentolerir perbuatan wasit lagi ketika service mereka dianulir. Tidak main-main, tim putri Indonesia memutuskan untuk walk out dari pertandingan untuk menunjukkan ketidakpuasan mereka terhadap wasit yang dianggap berat sebelah (Source: Kompas).

Tim Putri Sepak Takraw Indonesia Walk Out dari Final SEA Games (Source: CNN)

Kamu bisa saja mengira bahwa mungkin tim Indonesia saja yang merasa dicurangi. Akan tetapi, ternyata banyak kontingen negara lain yang mengutarakan kritik serupa. The Bangkok Post, sebuah media nasional di Thailand mengeluarkan komentar bahwa bagi banyak atlet, pejabat, jurnalis, dan fans yang berasal dari Thailand, sejauh ini SEA Games ke-29 yang berlangsung di Malaysia ini adalah yang terburuk dari sisi kepemimpinan dan organisasi (Source: Channel NewsAsia). The Bangkok Post juga menyayangkan berbagai keanehan di dalam penyelanggaraan SEA Games kali ini, di mana atlet atletik Malaysia memenangkan emas dengan berlari di cabang berjalan, dan juga bagaimana 2 atlet Malaysia diberikan medali emas cabang gimnastik di nomor yang sama (Source: Bangkok Post).

Intisari SEA Games

Pada akhirnya, semua pihak harus kembalik mengevaluasi apakah sebenarnya intisari dari SEA Games sendiri. SEA Games seharusnya menjadi sebuah panggung di mana kesebelas negara di Asia Tenggara dapat mempererat tali persaudaraannya dengan bertanding secara sportif dan sehat dalam olahraga.

Dan walaupun lumrah bagi setiap negara untuk mengejar kemenangan dan rasa bangga, sudah selayaknya usaha tersebut dilakukan dalam koridor yang sportif dan baik. Terlebih lagi, apabila usaha tersebut menyangkut hubungan baik dengan negara lain. Dan sudah terbukti, hubungan baik yang terjalin begitu lama antar negara dapat dengan cepat menjadi masam hanya dengan sebuah kesalahan yang terjadi pada perhelatan akbar ini.

Se-cliché apapun kedengarannya, kita harus menyadari bahwa bukan hanya hasil saja yang baik, tetapi proses mendapatkannya juga harus baik. Karena pada akhirnya, hasil baik yang didapat dengan cara yang tidak baik hanya akan menimbulkan masalah dan mengurangi manisnya kemenangan tersebut.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.