Ahok Dicalonkan Sebagai Penerima Penghargaan Nobel, Pantaskah?

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) adalah sosok yang kerap menjadi sorotan di Indonesia. Ahok merupakan Gubernur Jakarta pertama dengan background minoritas dari kedua sisi agama dan ras sekaligus. Bukan hanya itu, beliau juga dikenal sebagai pemimpin bertangan besi yang memiliki tutur bahasa yang bisa dibilang bombastis.

[Baca: Analisa Skenario Pilkada: Ahok Kalah di Putaran ke-2]

Terlepas dari itu, Ahok sendiri memiliki segudang prestasi dalam menata birokrasi dan infrastruktur DKI Jakarta. Beliau terkenal dengan kinerjanya yang sangat cekatan dan cepat dalam mengatasi permasalahan di masyarakat dengan mengandalkan 3 hotline dan beberapa platform online untuk menerima langsung laporan mengenai isu publik dari masyarakat. Ahok menerapkan prinsip carrot & stick dengan baik di kalangan birokrat, di mana sang Gubernur DKI Jakarta ini menaikkan gaji staff pemerintahan untuk menjauhkan mereka dari godaan korupsi. Akan tetapi, bagi mereka yang masih bandel, maka Ahok tidak akan segan-segan untuk mendisiplinkan pegawai tersebut yang dapat berakhir dengan pemecatan bila pelanggaran yang dilakukan itu berat sifatnya. Pembangunan Jakarta juga berjalan dengan lancar. Ahok terbukti berhasil menormalisasi kawasan kumuh di bantaran sungai Jakarta dan menyulapnya menjadi sungai-sungai bersih. Orang-orang yang tergusur dari kawasan inipun diberikan tempat tinggal yang layak huni dalam bentuk rusun (rumah susun). Dan bagi mereka yang direlokasikan dengan jarak lumayan jauh, biaya transportasi bis mereka juga dibebaskan oleh pemerintah.

Source: Tribun News

Dinominasikan Sebagai Penerima Penghargaan Nobel Perdamaian?

Belakangan santer beredar kabar bahwasanya Ahok akan dinominasikan sebagai penerima nobel perdamaian pertama dari Indonesia. Isu ini beredar dengan munculnya situs http://ahokfornobel.com/ yang mengumpulkan dukungan agar Ahok mendapatkan penghargaan bergengsi tersebut. Ditanyakan mengenai kabar burung ini dalam interview ahok dengan Al Jazeera (Source: Youtube), Ahok merasa bahwa dirinya merasa tidak pantas untuk mendapatkan penghargaan prestigious ini dan ada calon-calon lain yang lebih pantas mendapatkannya, seperti Syafi’I Maarif dari Maarif Institute maupun Gus Dur.

Mengenai benar atau tidaknya bahwa Ahok dinominasikan sebagai penerima nobel perdamaian hanya akan kita ketahui apabila beliau memenangkan penghargaan tersebut pada tanggal 10 Desember 2017 mendatang ataupun 50 tahun lagi dari sekarang. Seperti dikutip dari website penghargaan nobel, para nominasi penghargaan tidak akan dibuat publik sampai dengan setidaknya 50 tahun setelah tanggal nominasi (Source: Nobel Prize).

Terlepas dari benar tidaknya nominasi Ahok tersebut, mari kita menelaah lebih jauh kelebihan dan kekurangan Ahok sebagai seorang calon penerima penghargaan tersebut.

Sisi Positif

Dikutip dari situs ahokfornobel.com, Ahok yang merupakan keturunan Tionghoa dan beragama Kristen tetapi menjabat gubernur dari ibukota Negara berpopulasi muslim terbanyak  adalah simbol dari pluralisme, harmoni, dan perdamaian dalam masyarakat. Beliau juga dikatakan sebagai bentuk dari moto nasional Indonesia, yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tapi satu jua.

Ahok sendiri percaya bahwa perdamaian datangnya dari rumah. Ini terbukti dari keberanian ahok memberantas peredaran narkoba yang dianggap perusak keluarga nomor satu di Indonesia. Dengan berani Ahok menutup tempat-tempat hiburan yang ditemukan peredaran narkoba di dalamnya, termasuk juga tempat hiburan malam terbesar di Jakarta seperti Stadium dan Milles (Source: Tribun News). Walaupun sempat diserang oleh saingannya dalam perebutan kursi DKI 1, Anies Baswedan, karena Ahok dianggap tebang pilih dengan tidak menutup Alexis, Ahok menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan bukti peredaran narkoba di tempat hiburan malam tersebut (Source: Tribun News).

Sisi Negatif

Yang jelas akan menjadi pengganjal Ahok adalah kasus alegasi penistaan agama Islam yang dihadapinya sekarang. Pernyataan Ahok mengenai saingan politiknya yang dianggapnya telah memakai surat Al-maidah untuk menipu masyarakat untuk tidak memilihnya telah menyulut emosi sebagian besar masyarakat Indonesia yang 87% memeluk agama Islam.

[Baca: Terbaru! Ahli Bahasa Perkara Penistaan Agamana Menetapkan Penggunaan Kata Pakai Tidak Berpengaruh Pada Arti Kalimat ]

Terlepas dari penafsiran mana yang akan diterima pengadilan, Ahok bisa dibilang sudah melakukan kesalahan fatal sebagai seseorang yang duduk di kursi penguasa. Ahok sebagai pemimpin sudah seharusnya mengerti untuk tidak bermain api dengan isu sensitif yang terkait dengan mayoritas penduduk yang dipimpinnya. Diksi “menipu” yang digunakan Ahok juga dianggap sudah menempelkan konotasi negatif ke kitab suci agama Islam tersebut. Isu ini sudah menyebabkan beberapa demonstrasi dalam beberapa bulan terakhir.

Akhirnya, Ahok jelas memiliki beberapa kelebihan untuk dapat dinominasikan sebagai simbol perdamaian. Akan tetapi, di sisi lain Ahok juga telah dianggap mempolarisasi Negara Indonesia dengan skandalnya. Jawaban pantas tidaknya ahok menerima penghargaan ini ada di tangan publik yang merasakan dan menilai. Bagaimana pendapat anda?

Tentang Penulis

Steven Kester Yuwono

Steven Kester Yuwono adalah CTO dan Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Saat ini Kester sedang menyelesaikan studi PhD ilmu komputer di bidang Natural Language Processing, dimana Kester berharap aplikasi dari risetnya dapat membawa dampak positif di bidang kesehatan. Kester yang juga merupakan antusias gitar dan badminton ini juga memiliki minat besar dalam menjelajahi bagaimana teknologi dapat membawa perubahan di berbagai industri.