Analisa Skenario Pilkada: Ahok Kalah di Putaran ke-2

Pesta demokrasi yang telah lama ditunggu-tunggu akhirnya akan terlaksana juga di Jakarta pada 15 Februari 2017. Jalan menuju Pilkada DKI Jakarta dipenuhi dengan banyak drama dan warna-warni intrik politis. Betapa tidak, berbagai macam kasus mencuat mewarnai pilkada rasa pemilu presiden ini. Mulai dari kasus alegasi penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama, berbagai macam bentuk demo bela agama, tweet-tweet menggemparkan dari SBY, alegasi makar dari berbagai pihak, hingga laporan Antasari mengenai SBY ke polisi.

[Baca: Rangkuman: Dibom Nuklir Antasari, SBY Menyalahkan Jokowi]

Kontes kepopuleran untuk kursi DKI 1 ini akan diperebutkan oleh 3 paslon yang sudah sangat kita kenal melalui 3 debat terbuka sebelumnya.

Paslon 1 adalah pasangan Agus-Sylvi, di mana Agus adalah lulusan dari NTU dan Harvard dan merupakan anak dari mantan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Sylvi sendiri adalah seorang birokrat berpengalaman di daerah DKI di mana dia pernah memegang posisi sebagai Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan pada tahun 2015 sampai dengan 2016. Pasangan ini dikenal dengan kebijakan “menggeser” dan bukan menggusur. Mereka juga percaya bahwa Bantuan Langsung Sementara adalah merupakan jalan keluar bagi kemiskinan di DKI Jakarta. Beberapa pihak mengkritik bahwa kebijakan yang diajukan pasangan ini sifatnya tidak mendidik dan memberikan beban yang sangat besar kepada APBD

Paslon 1 - Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni
Paslon 1 – Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni

 

Paslon 2 datang dalam bentuk pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta inkumben, Ahok dan Djarot. Telah berpengalaman dan terbukti berhasil menata DKI Jakarta, paslon 2 terlihat selalu siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan data-data yang lengkap. Pasangan ke 2 ini menggunakan keberhasilannya dalam menata birokrasi dan infrastruktur Jakarta sebagai ujung tombak kampanyenya. Paslon nomor urut 2 ini berkomitmen untuk melanjutkan reformasi birokrasi yang telah mereka jalankan, serta menyelesaikan permasalahan infrastruktur Jakarta secepatnya. Isu SARA sering menjadi batu sandungan bagi Ahok yang merupakan orang Indonesia berketurunan Tionghoa. Ahok juga sering dikritik karena sifatnya yang blak-blakan.

Paslon 2 - Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat
Paslon 2 – Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat

 

Paslon 3 diketuai oleh mantan menteri pendidikan RI, Anies Baswedan. Anies berpasangan dengan Sandiaga Uno yang merupakan seorang pengusaha ternama di Indonesia yang juga merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia. Mengandalkan pengalaman Anies sebagai menteri pendidikan dan juga pencetus gerakan Indonesia Mengajar, pasangan ini mengutamakan pengembangan pribadi dan manusia dalam kampanyenya. Bukan hanya itu, pasangan ini juga telah menyiapkan gerakan OK OC (One Kampung One Centre for Entrepreneurship) yang diharapkan akan dapat memicu jiwa kewirausahaan dari warga Jakarta agar mereka dapat menjadi mandiri dalam sisi finansial. Kritik yang sering di dapat oleh pasangan ini adalah bahwa ucapan mereka hanya enak didengar di telinga saja, tetapi implementasinya dipertanyakan. Pasangan ini juga diduga menyebarkan video smear campaign yang mengandung sara kurang dari seminggu dari hari Pilkada. Akan tetapi, penyebar video tersebut belum dapat dipastikan sumbernya.

Paslon 3 - Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno
Paslon 3 – Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno

 

Peta Perebutan Kursi DKI 1

Pasangan inkumben Ahok dan Djarot harus berbangga hati atas pemerintahan mereka selama beberapa tahun terakhir. Pemerintahan mereka direspon positif oleh masyarakat sebagaimana dilaporkan oleh lembaga survey independen Indikator dengan approval rate spektakuler di angka 75% pada pertengahan Januari silam (Source: Jakarta Globe) . Dalam keadaan normal, angka ini sangat mungkin untuk mengantarkan sebuah pasangan ke kursi pemerintahan dengan sangat mudah. Sayangnya untuk pasangan ini, tingkat kepuasan publik tersebut tidak sepenuhnya tertranslasikan ke elektabilitas mereka, di mana elektabilitas pasangan ini hanya bertengger pada angga 38.2%, walaupun angka tersebut adalah yang tertinggi dari kedua paslon lainnya. Ketimpangan pada kedua indicator ini sangat mungkin disebabkan oleh kasus penistaan agama yang sedang dihadapi Ahok saat ini. Kedua paslon lain juga tidak melewatkan kesempatan untuk menggunakan status Ahok sebagai seorang nasrani berketurunan Tionghoa untuk mencoba mendapatkan keunggulan.

 

Skenario 1: Ahok menang dalam satu putaran

Kesempatan kemenangan terbesar Ahok-Djarot adalah apabila pasangan ini mendapat raihan lebih dari 50% suara pada putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2017. Akan tetapi, skenario ini dianggap kurang meyakinkan, di mana elektabilitas ketiga paslon diestimasikan sekitar 40%-45% untuk Ahok-Djarot, 30%-35% untuk Anies-Sandiaga, dan 20%-25% untuk Agus-Sylvi. Dengan perolehan seperti ini, akan sangat mungkin bila Pilkada akan berlangsung ke putaran ke 2 dan hanya meninggalkan 2 calon teratas saja.

Akan tetapi, skenario kemenangan 1 putaran tidak sepenuhnya di luar dari perkiraan. Ada sekitar 7 hingga 10 persen undecided voters yang dapat merubah arah dari Pilkada ini secara signifikan. Bukan hanya itu, tingginya tingkat ketidak pastian (uncertainty) pada pilkada ini juga cukup tinggi, di mana mungkin terdapat faktor-faktor yang tidak tertangkap oleh statistik yang dapat merubah hasil dari pemilihan ini. Perlu diingat bahwa seorang forecaster kenamaan Nate Silver  yang dulu berhasil dengan sangat tepat memprediksi hasil pemilihan United States pada 2012 juga gagal memprediksikan kemenangan Trump pada pemilihan terakhir karena tingginya tingkat ketidakpastian. Ketidak pastian ini juga dikontribusikan oleh Bradley Effect, di mana orang-orang tidak melaporkan dengan jujur pilihannya yang sebenarnya pada survey-survey. Bisa saja Ahok memiliki banyak pendukung yang mengaku mendukung calon lainnya karena takut dicap melawan ajaran agamanya sendiri.

Skenario 2: Ahok kalah dalam putaran ke-2

Melihat keadaan di atas, sangat mungkin bila Pilkada DKI Jakarta berlanjut ke ronde ke 2 dengan Ahok-Djarot dan Anies-Sandiaga berkontes untuk mendapatkan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur. Bila kita menelaah lebih jauh basis kekuatan dari paslon 1 yang kemungkinan akan tereliminasi dari ronde pertama, akan sangat mungkin bila pendukung dari paslon 1 melompat perahu dan ikut mendukung paslon 3. Sekali lagi, kasus dan status Ahok sangat mempengaruhi kemungkinan terjadinya skenario ini.

Dan bila prediksi penulis benar, Anies dan Sandiaga akan menjadi Gubernur dan Wagub DKI Jakarta berikutnya.

 

Harap diingat bahwa analisa sang penulis sifatnya adalah objektif sesuai dengan data yang dimiliki penulis pada saat penulisan artikel. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menguntungkan maupun mendiskreditkan pasangan manapun. Artikel ini juga tidak mewakilkan pandangan politik dari JurnalKebenaran.com

 

Tentang Penulis

Steven Kester Yuwono

Steven Kester Yuwono adalah CTO dan Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Saat ini Kester sedang menyelesaikan studi PhD ilmu komputer di bidang Natural Language Processing, dimana Kester berharap aplikasi dari risetnya dapat membawa dampak positif di bidang kesehatan. Kester yang juga merupakan antusias gitar dan badminton ini juga memiliki minat besar dalam menjelajahi bagaimana teknologi dapat membawa perubahan di berbagai industri.