Analisa Video Black Campaign Pilkada DKI: Didalangi Anies atau Malah Agus/Ahok?

Kurang dari seminggu menjelang Pilkada DKI Jakarta, masyarakat dihebohkan oleh video black campaign yang beredar secara online.

Pada awalnya, video ini terlihat lucu dengan membawa konsep seorang gadis yang ingin menentukan pasangan hidupnya di depan kedua orang tua sang gadis tersebut. Layaknya seperti orang tua yang perhatian dan khawatir tentang masa depan putrinya, sang ibu dan bapak menanyakan background dari calon-calon pasangan hidup sang anak.

 

Menyerang Agus Harimurti Yudhoyono

Interogasi sang orang tua berawal dari calon pertama. Si anak menjelaskan bagaimana sang calon menantu pertama tidak memiliki pengalaman kerja, akan tetapi dia sering memberikan uang kepada si anak gadis. Yang membuat orang tua sang gadis mengernyit kemudian adalah bahwa duit tersebut datangnya dari bapak sang calon menantu.

Jelas pernyataan ini menarik paralel pada paslon 1, Agus Harimurti. Agus sering diidentikkan dengan kata inexperienced, ataupun kurang berpengalaman walaupun dia sendiri sudah memegang jabatan lumayan tinggi di militer. Terkait dengan sikap si calon menantu yang suka memberi duit di video, ini adalah merupakan sindiran atas kebijakan bantuan langsung tunai yang dikampanyekan oleh paslon 1. Kebijakan ini pernah dikomentari oleh paslon 2 dan 3 sebagai kebijakan yang hanya membuat orang senang saja tetapi tidak mendidik. Pukulan terakhir untuk Agus ditembakkan dalam bentuk komen di video bahwa  bahwa uang yang diberikan calon menantu tersebut adalah duit bapaknya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa SBY mengerahkan segala daya, upaya, dan uang untuk memenangkan paslon 1 dalam pilkada DKI 2017 ini.

 

Menyerang Basuki Tjahaja Purnama

Interogasi berlanjut ke calon menantu ke 2 yang merupakah perumpaan Ahok. Di sini dengan sangat disayangkan muncul  sebuah komentar SARA mengenai betapa si calon menantu ke 2 berbeda agama sehingga menjadi sebuah masalah. Serangan juga lalu dilanjutkan dengan komentar bahwa sang calon menantu suka  bertutur kata kasar tapi selalu bekerja keras. Ini merupakan sebuah depiksi yang sering diidentifikasikan dengan Ahok di kalangan masyarakat Indonesia. Ahok dikenal sebagai sosok nasrani yang giat bekerja akan tetapi memiliki mulut yang bisa dibilang pedas.

 

Memuji Anies dan Menutupi Kelemahannya

Calon menantu ke 3 digambarkan sebagai orang yang tidak memiliki cela, sosok yang pintar, memiliki pengalaman kerja, jujur, dan sayang dengan sang gadis, bukan hanya itu, dia juga dianggap sebagai orang yang peduli akan sekelilingnya.

Bila sekali lagi kita menarik paralel, jelas deskripsi ini mengarah pada Anies yang memiliki titel PhD (pintar), memiliki pengalaman kerja sebagai menteri, sayang akan keluarga, dan peran Anies dalam mencetuskan program Indonesia Mengajar (peduli sekeliling).

Tentu saja gambaran ini sifatnya adalah timpang sebelah, karena sang pembuat video jelas menutupi kelebihan calon 1 dan 2, dan menutupi kelemahan calon ke 3. Anies sendiri sering dikritik sebagai seorang penyair, memiliki kata-kata yang enak didengar tetapi implementasinya dipertanyakan. Perlu diingat juga, bahwa Anies juga sifatnya adalah dicopot posisinya dari cabinet Jokowi sebagai menteri pendidikan Indonesia, walaupun alasan pencopotannya tidak diberitahukan kepada publik.

 

Reverse Psychology

Dengan begini, lantas orang-orang dengan cepat menunjukkan jari kepada Anies sebagai orang yang menjalankan black campaign dengan membawa isu SARA dan membuka kejelekan calon-calon lainnya. Tak heran bila masyarakat mencap Anies sebagai tidak mendidik, licik, dan tega untuk membuat fitnah terhadap pasangan lain.

Tapi bila kita melihat kepada sosok Anies, ada beberapa kejanggalan mengenai video ini. Pertama, video ini tidak ada di dalam website resmi paslon 3, sehingga kita tidak bisa mengkonfirmasi bahwa video ini benar milik mereka. Kedua, di dalam video tidak ditunjukkan pasangan no 3 maupun pasangan lain, yang di mana membuka spekulasi bahwa video ini mungkin tidak diberikan endorsement oleh paslon 3, dan sang pembuat menghindari penempatan wajah paslon untuk menghindari tuntutan hukum. Ketiga, Anies dikenal sebagai sosok pendidikan yang mengutamakan edukasi publik. Video yang bersifat membakar dan memecah seperti ini agaknya bertentangan dengan prinsip-prinsip Anies yang biasa dia tunjukkan ke publik.

Terakhir, bisa saja video ini diciptakan dengan tujuan untuk memberikan imej korban terhadap calon lain. Di mana calon lain ditempatkan dalam posisi yang dikatakan dizalimi untuk dapat menarik simpati publik. Taktik ini juga sudah tidak asing dalam pertarungan politik sebagaimana juga digunakan di beberapa eleksi publik di Negara-Negara Barat.

Akhirnya, sebagai pemilih dan penentu masa depan Negara Indonesia, marilah kita menjadi lebih bijak dalam menyaring informasi yang disampaikan oleh media. Jangan cepat percaya pada isu dan selalu cek kembali fakta-fakta anda sebelum anda menentukan opini dan pilihan anda. Maju terus Indonesia.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.