Doa Rizieq

Pilkada serentak ronde kedua di Indonesia akan berlangsung kurang dari tiga minggu lagi. Melihat pemberitaan sepanjang berlangsungnya Pilkada ini. Tampaknya proses berpolitik dan bernegara di Indonesia memang tidak dapat dipisahkan seutuhnya dari persoalan agama. Akan tetapi, yang menjadi hal yang memperihatinkan adalah bagaimana isu ini kemudian meregangkan adhesi antara umat beragama dan bahkan orang-orang yang memeluk agama yang sama.

[Baca: Belajar Bernegara dari Badminton]

Belakangan beredar sebuah seri video di mana Habib Rizieq Shihab memberikan sebuah ceramah yang cukup menggemparkan. Di salah satu videonya, terlihat Rizieq yang dengan sangat berapi-api mendoakan orang-orang yang tidak memilih pemimpin muslim. Sayangnya, alih-alih mendoakan hal yang baik-baik agar orang-orang tersebut mendapatkan hidayah dan mengikuti prinsip-prinsip yang dianut Rizieq, isi dari doa Rizieq malah terdengar seperti sebuah kutukan. Berikut adalah transkrip dari doa Rizieq yang tertangkap video beserta dengan video yang dimaksud.

Ya Allah,
Jika ada di antara Umat Islam — Yang ada di Jakarta ini — Yang sudah dinasehati ulama — Sudah dikasih tahu ulama — Agar jangan memilih pemimpin kafir — Tapi dia tetap bandel, ya Allah — Dia tetep ngotot, ya Allah — Bukan karena dia tidak tahu, ya Allah — Tapi dia ingin melawan Engkau — Dia ingin melawan daripada fatwa ulamanya, ya Allah — Dia sengaja memilih orang kafir sebagai pemimpin — Dia ingin bikin susah daripada hamba-hambaMu ya Allah — Maka bikin susah hidupnya — Seretkan rezekinya — Jangan berkahi nafkahnya — Jangan sembuhkan penyakitnya — Biar dapat penyakit yang belum ada obatnya — Biar susah jalan hidupnya — Biar dipecat dari tempat kerjaannya — Biar ditinggal lari bininya — Biar lakinya kawin lagi — Biar anak-anaknya ngelawan sama dia — Biar hidupnya tidak bahagia — Nggak dapat anak keturunan yang solihin dan solehat — Hidupnya hancur-hancuran — Nggak ada berkah! — Susah tiap hari! — Sedih tiap hari! — Gundah gulana tiap hari! — Kecuali jika dia bertobat kepada Engkau ya Allah.
– Habib Rizieq, 2017

 

Untuk lengkapnya, saksikan video di bawah ini (doa diatas dimulai dari menit 1:53):

 

Mengapa Kurang Tepat?

Adanya ceramah semacam ini sebenarnya sangat disayangkan karena sifatnya dapat menimbulkan perpecahan di dalam masyarakat. Terlebih lagi, ketika sebuah agama dipergunakan sebagai landasan untuk melontarkan kata-kata yang tidak baik, maka kemungkinan besar akan timbul persepsi-persepsi yang salah akan agama tersebut di kalangan yang tidak sepenuhnya mengerti akan agama tersebut.

Mungkin yang dimaksudkan Rizieq adalah menimpali sebuah riwayat. Aisyah ra berkata “Saya mendengar Rasulullah SAW berdoa di rumah ini, ‘Ya Allah, siapa saja yang diserahi kekuasaan untuk mengurusi urusan umatku, kemudian ia memberatkannya, maka beratkanlah dirinya, dan barangsiapa yang diserahi kekuasaan untuk mengurus urusan umatku, kemudian ia berlaku lemah lembut, maka bersikap lembutlah kepada dirinya.'” [HR. Muslim]. Akan tetapi, ada 2 hal yang dapat dibilang menyebabkan timpalan dari Rizieq kurang tepat.

1. Ahok Memudahkan Urusan Umat Islam di Jakarta

Jelas dikatakan di riwayat itu bahwa Nabi Muhammad SAW meminta pertolongan kepada Allah apabila ada seorang penguasa yang memberatkan urusan daripada umat Nabi Muhammad (orang muslim). Apabila kita melihat kepemimpinan Ahok selama ini, maka kita dapat melihat bahwa yang terjadi adalah Ahok malah memudahkan kehidupan umat Islam di DKI Jakarta. Berikut adalah contoh-contoh bagaimana Ahok memudahkan urusan umat Islam di Jakarta:

  1. Ahok menginisiasi dan menjalankan banyak proyek pembangunan masjid di Jakarta. Proyek-proyek yang dimaksud juga termasuk pembangunan Mesjid Raya Jakarta, Masjid Fatahillah di kompleks balai kota DKI Jakarta dan Masjid di Rusun Marunda.
  2. Menyediakan program untuk memberangkatkan marbut masjid untuk umrah sejak tahun 2014. Program ini adalah bentuk apresiasi dari Ahok kepada marbut yang dianggap Ahok sebagai sebuah pekerjaan yang mulia. Bukan hanya membiayai umrah, Ahok juga menyediakan anggaran untuk memberi honor kepada marbut, dan juga untuk kegiatan Dewan Masjid Indonesia lainnya.
  3. Bila zaman dulu madrasah tidak mendapatkan banyak perhatian, maka pandangan ini dapat dirubah pada zaman kepemimpinan Ahok. Ahok melalui pemprov DKI menganggarkan Rp 2,5 triliun untuk kebutuhan Kartu Jakarta Pintar yang berhubungan dengan murid-murid di madrasah swasta. Dengan adanya bantuan ini, pengajar-pengajar di madrasah Jakarta juga dapat menikmati gaji yang lebih layak.
  4. Mengerti tantangan dari berpuasa, Ahok mempercepat pulang kantor bagi karyawan pemprov DKI dan juga murid, guru, dan karyawan sekolah SD hingga SMA di Jakarta. Pada bulan puasa tahun 2016 kemarin, PNS dapat pulang jam 14.00 WIB dan orang-orang di lingkungan sekolah dapat pulang jam 13.30 WIB (Source: IDNtimes.com).
Projek Masjid Raya Daan Mogot
Projek Masjid Raya Daan Mogot (Source: Twitter)

2. Bahasa yang Tidak Baik

Bila dilihat dari potongan doa yang dikutip dari riwayat di atas, bahasa yang digunakan oleh Rizieq dan Nabi Muhammad SAW juga sangat jauh berbeda. Kata yang digunakan oleh Rasulullah adalah “beratkan” yang sangat jauh berbeda dengan rentetan kejadian-kejadian buruk yang diucapkan oleh Rizieq.

Doa dari Rizieq juga sama sekali tidak menggambarkan kearifan dan kelembutan dari Nabi Muhammad SAW. Bila anda beragama Islam, tentunya anda familiar dengan cerita bagaimana Beliau dilempari dengan kotoran dan tetap memaafkan dan mendoakan si pelempar itu agar mendapatkan hidayah dari Allah. Tentunya anda dapat menilai sendiri tepat atau tidaknya perbuatan Rizieq di sini.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.