Habieb Rizieq Dijerumuskan, Upaya Pemerintah Meredam Suara Islam?

Akhir-akhir ini Indonesia dihebohkan dengan kasus alegasi penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal dengan Ahok. Habib Rizieq, selaku pemimpin tertinggi Front Pembela Islam (FPI), berada di garis depan pertikaian ini sebagai pelapor kasus tersebut ke pengadilan.

Anehnya, seakan-akan ada retaliasi dari berbagai sumber dan pemerintah, berbagai kasus miring menimpa Habib Rizieq dalam waktu yang berdekatan. Mulai dari skandal perselingkuhan dengan Firza Husein, laporan penistaan kasus penistaan agama kristiani, hingga status tersangka yang didapat dari laporan kasus penistaan Pancasila.

Terlepas dari benar atau salahnya Habib Rizieq, ketiga hal ini agaknya terlalu aneh bila disebut sebuah kebetulan.  Ketiga kasus ini terlihat terorkestrasi dengan baik seakan-akan sebagai bentuk retaliasi terhadap Rizieq yang berani macam-macam terhadap Ahok, anak kesayangan partai yang berkuasa di pemerintahan saat ini.

Tentunya hal ini menimbulkan suatu kecemasan bagi terlaksananya demokrasi di Indonesia. Bukankah akan sangat berbahaya bila seseorang akan dijerumuskan ataupun dijebak bila dia berusaha melawan seseorang yang memiliki kekuasaan (the man of power)? Apakah mungkin ini merupakan upaya untuk membungkam suara pemeluk agama Islam yang merupakan mayoritas di Indonesia? Apalagi kejadian ini datangnya juga sangat dekat dengan penutupan masal situs-situs Islam di Indonesia.

Sekali lagi, terlepas dari benar-salahnya Rizieq dalam kasus-kasus tersebut, bukankah Negara seharusnya menjadi wadah pendengar aspirasi dan kegelisahan rakyatnya? Terlebih lagi, suara-suara yang teredam ini adalah mayoritas di tanahnya.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.