Kudeta: Igauan atau Fakta?

Artikel Allan Nairn

Nama Allan Nairn luas tersebar di masyarakat. Betapa tidak, jurnalis investigasi ternama ini sukses mengobok-obok ketenangan beberapa tokoh nasional di Indonesia dengan artikel terbarunya. Di dalam artikel tersebut Allan membawa-bawa nama Prabowo Subianto, Fadli Zon, Hary Tanoe, Munarman, Panglima TNI Jendra Gatot Nurmantyo, hingga Rizieq Shihab. Allan Nairn menggambarkan di dalam tulisannya bagaimana tokoh-tokoh tersebut menggunakan isu penistaan agama oleh Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai alat untuk menggulingkan kepresidenan Joko Widodo (Jokowi) (Source: The Intercept).

Allan Nairn juga berspekulasi bahwa keterkaitan TNI di sini juga disebabkan oleh langkah kontroversial Jokowi yang membuka simposium pendengaran kejadian G30S PKI (Source: Time) yang merenggut ribuan hingga ratusan ribu (menurut beberapa sumber yang berbeda) nyawa.

Aksi pelajar mendukung G30S PKI
Aksi pelajar mendukung G30S PKI (Source: BBC Indonesia)

Walaupun Allan Nairn sendiri bukanlah seorang penulis “ecek-ecek” mengingat bahwa dia sudah berkali-kali mendapatkan penghargaan bergengsi seperti Memorial Prize Pertama Robert F. Kennedy, penghargaan George Polk, dan juga penghargaan James Aronson atas karyanya di bidang jurnalisme (Source: tirto.id), tetap saja kita tidak bisa bulat-bulat mempercayai tulisannya sebagaimana kita harus selalu siaga dalam menyaring informasi yang kita dapatkan.

[Baca: Jokowi: Liberalis, Komunis, Kapitalis, Zionis, Aseng dan… Ranger Merah?]

1. Cocoklogi & Bukti

Perlu diakui bahwa di dalam artikelnya, Allan berhasil menyajikan sebuah cerita yang meyakinkan dan tersusun rapi. Allan juga berhasil menyambung-nyambungkan berbagai pemberitaan yang hadir di media Indonesia menjadi suatu skema besar dengan beberapa orang penting yang menarik benang di belakangnya. Akan tetapi, Allan tidak menunjukkan cukup bukti yang konkrit di dalam artikelnya selain sebuah cover dari manuskrip yang dia katakana berasal dari pihak militer. Sulit rasanya untuk benar-benar mempercayai sebuah cerita sensasional hanya dengan iming iming “Saya memiliki rekaman off-record dan dokumen-dokumen rahasia”.

Ditambah lagi, Allan terkesan memiliki tendensi untuk mengambil kesimpulan secara prematur tanpa melaporkan fakta-fakta yang sebenarnya gampang diketahui tetapi dapat melunturkan klaim sensasional dari Allan. Contohnya saja Allan menuduh FPI memiliki hubungan dengan ISIS. Walaupun kita tidak dapat mengatakan dengan keyakinan 100% bahwa di dalam FPI tidak ada yang mendukung ISIS secara individual, FPI sendiri pernah mengeluarkan pernyataan di tahun 2016 bahwa FPI secara umum tidak mendukung ISIS (Source: fpi.or.id). Berikut kutipannya:

TANYA: Kenapa FPI tidak dukung ISIS ?! Padahal FPI & ISIS sama-sama dukung Penerapan Syariah dan Penegakan Khilafah serta Anti Zionis.

JAWABAN IMAM BESAR FPI, HABIB MUHAMMAD RIZIEQ SYIHAB :

“Karena Fakta ISIS di berbagai negeri Islam telah membunuh Ulama Aswaja yg tdk mendukung mereka,  dan mengkafirkan kaum muslimin yg tdk sependapat dg mereka, serta menghancurkan Makam Anbiya, Shahabat, Tabi’in, Ulama dan Auliya, dg dalih memerangi kemusyrikan.

Ini yg ditolak keras FPI sbg Ormas Islam ASWAJA. Jihad ada syarat, rukun dan adab yg tdk boleh dilanggar. Jihad tidak boleh menghalalkan segala cara. Camkan !”

Untuk adilnya juga, situs ini sepertinya memang sudah dihapus, dan kutipan yang kita gunakan adalah cache dari Google. Akan tetapi, ini menjadi bukti bahwa FPI melalui pemimpinnya Rizieq Shihab pernah dengan tegas menolak gerakan ISIS pada tahun 2016 lalu.

2. Sumber Berita

Allan terkesan hanya terfokus menggunakan informasi dari lingkup narasumber yang kecil seperti Kivlan Zen dan orang dalam FPI yang dia gunakan dalam pembuatan artikel ini. Sebagai seorang jurnalis, sistem pengecekan fakta penting adanya untuk memverifikasi informasi yang diberikan narasumber. Ini penting adanya karena setiap orang memiliki insentif yang berbeda-beda dalam menyampaikan ceritanya, dan sebagai manusia, kata lupa dan bias kepada satu sisi itu lumrah adanya.

Kivlan Zen
Kivlan Zen (Source: Kompas)

3. Motif dan Alternatif

Hal yang lumayan mencolok dari cerita Allan adalah bagaimana Allan tidak berhasil menghadirkan motif yang cukup kuat bagi nama-nama yang disebutnya sehingga mereka benar ingin merencanakan sebuah kudeta.

Perlu diingat, Indonesia adalah sebuah Negara demokrasi yang rakyatnya bisa dibilang masih cukup hijau dalam berdemokrasi, di mana sebuah narasi dapat diciptakan untuk mengarahkan opini publik. Rencana untuk menggulingkan Jokowi yang masa jabatannya tinggal kurang dari 2 tahun lagi terkesan sedikit terlalu ekstrim dan kontraproduktif bagi orang-orang yang tidak begitu senang terhadap presiden kita ini. Hasil yang sama atau bahkan lebih baik bagi orang-orang tersebut dapat dihasilkan dengan cara memenangkan pemilu presiden pada tahun 2019 mendatang. Konsekuensi dari merencanakan dan melaksanakan sebuah kudeta sepertinya jauh menutupi manfaat menggulingkan Jokowi yang dapat berakhir dengan sanksi dari pihak internasional (bila berhasil) dan kematian (bila gagal),

Dan JIKA mereka benar-benar ingin menggulingkan Jokowi, tentunya ada cara-cara lain yang tidak seberisiko rencana kudeta. Contohnya saja mereka dapat mengikuti gaya kampanye Donald Trump yang dikatakan memiliki pasukan IT yang bertugas menyebarkan isu-isu buruk tentang lawannya. Taktik ini sudah terbukti begitu sukses menggerogoti elektabilitas Hillary Clinton pada pemilu presiden Amerika Serikat baru-baru ini. Bila ini juga tidak berhasil, tentu saja masih ada kesempatan untuk memberikan suap untuk orang-orang penting yang berhubungan dengan kepentingan mereka.

Akhir kata, kita tidak bisa mengatakan bahwa apa yang dikatakan Allan Nairn adalah sepenuhnya benar ataupun sepenuhnya salah. Seperti banyak pemberitaan, selalu ada titik tengah di mana fakta dan fiksi bertemu. Adalah tugas dari pembaca untuk selalu mengolah lagi apapun informasi yang mereka dapatkan dari sumber apapun. Jadi, apakah menurut anda tuduhan Allan Nairn benar atau salah?

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.