Lompatan Setya Novanto Si Tupai Kasus

Setya Novanto lagi, Setya Novanto lagi. Entah sudah keberapa kalinya nama Setya Novanto diseret-seret dalam sebuah skandal mega korupsi. Ya, mega korupsi. Karena memang kasus di mana nama Setya Novanto dibawa-bawa selalu melibatkan jumlah uang yang fantastis.

Setya Novanto, Pengusaha & Pelobi Handal

Bagi anda yang masih belum familiar dengan latar belakang Setya Novanto, maka perlu anda ketahui bahwa Setya Novanto adalah ketua DPR RI saat ini. Setya lahir pada tanggal 12 November 1954. Setya yang berawal bekerja berjualan madu dan beras sudah terlihat kemampuan bisnisnya sehingga dia bisa menjadi penyalur pupuk. Lewat pekerjaannya sebagai penyalur pupuk inilah Setya Novanto mengenal Nusa Tenggara Timur, provinsi yang sekarang diwakilinya di DPR.

Pernikahan pertama Setya dengan Luciana Lily Herliyanti yang merupakan putri Brigadir Jenderal Sudharsono ternyata membawa angin segar pada perjalanan karir Setya. Menjadi menantu dari Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat, Setya dipercayai untuk mengelola pompa bensin milik mertuanya di Cikokol, Tangerang. Ditambah dengan koneksi luas yang sekarang dimilikinya, Setya berhasil memperluas bisnisnya ke area peternakan, kontraktor, jual-beli bahan baku kertas, tekstil, hotel, hingga lapangan golf (Source: Tempo).

Sudah sukses di dunia bisnis, Setya kemudian merambah ke dunia politik. Setya dikenal sebagai seorang pelobi handal, sehingga kemudian dia bisa menjadi anggota DPR RI yang diusung golkar selama 3 periode berturut-turut (Source: merdeka.com) sejak tahun 1999. Prestasi politik Setya jelas tidak kalah dari prestasi di bidang ekonominya, Setya  saat ini sukses menjadi Ketua DPR RI dan juga Ketua Umum Partai Golkar periode 2016-2019 (Source: Kompas).

Sayangnya, kiprah Setya di bidang politik bisa dibilang tidak jauh dari kata skandal.

Setya Novanto Sarat dengan Sejumlah Kasus Korupsi (Source: detik.com)

Lompatan Maut Setya

Nama Setya Novanto berkali-kali muncul dalam kasus korupsi berjumlah milyaran Rupiah yang merugikan Negara Indonesia, walaupun statusnya selama ini masih saja sebagai saksi.

Mari kita mengutip artikel dari Kompas untuk melihat keterlibatan Setya dalam berbagai kasus korupsi di tanah air. Pada tahun 2012 lalu, Setya diperiksa KPK sebagai saksi dari Gubernur Riau, Rusli Zainal yang telibat dalam kasus proyek sarana dan prasarana PON Riau 2012. Setya diperiksa lantaran dia pernah bertemu langsung dengan Rusli terkait dengan proyek PON tersebut.

Tak berselang begitu lama, nama Setya mencuat lagi ketika mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin menyatakan bahwa Setya terlibat dalam kasus korupsi pengadaan e-KTP di tahun 2013. Dalam pernyataannya, Nazaruddin mengatakan bahwa Setya adalah pengendali proyek e-KTP. Akan tetapi, Setya menampik tuduhan dari Nazaruddin.

[Baca: e-KTP: eh, Ketipu]

Tidak berhenti di sana, suara Setya Novanto terekam pada saat dia melakukan perundingan dengan PT Freeport Indonesia. Dalam rekaman tersebut, Setya terbukti meminta 20% saham PT Freeport Indonesia dan juga 49% saham proyek Pembangkit LIstrik Tenaga Air (PLTA) Urumuka, Papua. Setya juga tertangkap membawa-bawa nama Presiden Joko Widodo dan juga Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam rekaman tersebut. Tidak tinggal diam, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said langsung melaporkan Setya Novanto ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Dalam laporan yang disampaikan, Sudirman juga melampirkan salinan percakapan antara Setya dengan pengusaha Riza Chalid dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin yang berlangsung selama 11 menit 38 detik.

[Baca: Rangkuman: Belenggu Freeport di Papua]

Memang dasarnya jago mengelak, Setya Novanto, berbagai upaya dilakukan untuk menggagalkan laporan tersebut. Sudirman dituding tidak memiliki kedudukan hukum untuk melaporkan Setya ke MKD karena posisinya sebagai seorang menteri. Bukan hanya itu, legalitas rekaman yang dilampirkan dalam laporan tersebut juga dianggap tidak valid oleh kubu Setya karena tidak dilakukan dengan izin pengadilan dan bukan oleh penegak hukum. Anehnya, pengadilan dihentikan karena Setya Novanto mengundurkan diri sebagai Ketua DPR (yang mana pada akhirnya dipegangnya kembali dalam kurun waktu yang tidak begitu lama). Ditambah lagi, judicial review yang dilayangkan Setya ke MK juga dikabulkan, di mana MK menilai bahwa penyadapan terhadap satu pihak harus dilakukan oleh penegak hukum dengan ketentuan yang berlaku di dalam UU ITE. Lantas secara hukum Setya Novanto dianggap bersih dan tidak bersalah. Akan tetapi, secara etika dan nurani, publik Indonesia sudah terlanjur membentuk sebuah opini terhadap sosok Setya Novanto.

Tersandungnya si Tupai

Walaupun si “tupai” Setya Novanto memang jago melompat, sepertinya kali ini dia tersandung juga. KPK resmi menetapkan Setya sebagai tersangka kasus mega korupsi e-KTP pada tanggal 17 Juli 2017 lalu. Agus Rahardjo selaku Ketua KPK yang mengeluarkan pernyataan tersebut juga menambahkan bahwa Setya diduga sudah menguntungkan diri, orang lain, atau korporasi dan juga menyalahgunakan wewenang dan jabatannya (Source: Kompas).

Infografik Proyek Bermasalah e-KTP (Source: katadata.co.id)

Temuan di peradilan sejauh ini menemukan bahwa Setya Novanto selaku perwakilan fraksi Golkar di DPR pada tahun 2010 telah diduga membuat kesepakatan dengan Anas Urbaningrum, Muhammad Nazaruddin, dan pengusaha Andi Narogong untuk bagi-bagi hasil dalam penggelembungan dana proyek e-KTP (Source: BBC).

Kerugian yang ditanggung oleh Negara ditafsir ada di angka Rp 2,3 dari total nilai proyek yang berada di angka Rp 5,9 triliun. Dari total kerugian sebesar Rp 2,3 triliun, angka fantastis yaitu Rp 574 milyar di antaranya diduga masuk ke kantong Setya Novanto. Atas tudingan tersebut, Setya Novanto membantah, “Saya tidak pernah menerima. Uang Rp 574 miliar besar bukan main, bagaimana transfernya, bagaimana wujudnya? Saya mohon jangan ada penzaliman terhadap diri saya.” (Source: BBC)

Walaupun Setya Novanto berdalih, kali ini tidak banyak yang dapat dia lakukan. Status tersangka yang sudah ditempelkan pada namanya berarti bahwa posisinya sebagai Ketua Umum Partai Golkar dan juga Ketua DPR RI terancam. Tekanan dari dalam Partai Golkar sudah mulai muncul dengan suara-suara politisi muda Golkar seperti Ketua AMPG Ahmad Doli Kurnia yang meminta Setya untuk turun dari posisinya sebagai Ketum partai tersebut. Doli mengaku bahwa dia khawatir bahwa Setya akan menggunakan badan legislatif untuk melindungi dirinya dari jeratan hukum. Dan apabila itu terjadi, nama Golkar jelas akan tercoreng di mata publik (Source: The Jakarta Post).

Tapi, bukan Setya Novanto namanya bila dia tidak bisa keluar dari sebuah keadaan terdesak. Seperti yang kita tahu, Setya bukan hanya sekedar “tupai” biasa, tetapi dia juga adalah “tupai terbang”. Mungkin saja pijakannya tersandung di pohon yang dihinggapinya. Tapi ini bukan berarti dia pasti terjatuh. Setya Novanto adalah seorang sosok yang handal untuk tahu bagaimana caranya agar dia tidak jatuh ke tanah.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.