Merdeka Tanpa “Kita Lawan Mereka”

“Indonesia raya! Merdeka! Merdeka! Tanahku negeriku yang kucinta. Indonesia raya! Merdeka Merdeka! Hiduplah Indonesia raya!” dinyanyikan jutaan rakyat Indonesia pada ulang tahun Republik Indonesia ke 72 baru-baru ini. Sorak sorai dan gegap gempita jauh terdengar di seluruh pelosok Indonesia. Berbagai bentuk selebrasi digelar untuk mensyukuri buah keringat pahlawan-pahlawan Indonesia yang telah memberikan fondasi kuat untuk hidup mandiri bagi masyarakat Indonesia.

Harap diingat, kata yang perlu dicatat di sini adalah fondasi. Kata merdeka pada hakikatnya bukan hanya kebebasan dari tekanan eksternal, tetapi juga tekanan yang datangnya secara internal. Tidak cukup bila kita hanya mengandalkan apa yang sudah diwariskan oleh para pendahulu kita dan berharap semuanya akan baik-baik saja.

Ironi Musuh Sebagai Pemersatu

“Musuh dari musuhku adalah temanku” merupakan ide sentral dari buku berjudul “Fear of Enemies and Collective Actions” oleh Ioannis Evrigenis yang merupakan Associate Professor jurusan ilmu politik dari universitas Tufts. Di dalam buku tersebut, Evrigenis menyelusuri berbagai kejadian besar di dalam sejarah dunia dan bagaimana teori “asosiasi negatif” kerap terbukti lagi dan lagi.
Observasi yang cukup “menyedihkan” dari penelusuran maksim ini adalah bagaimana sering kali lem penguat suatu masyarakat dan grup politik yang paling kuat adalah adanya sosok yang dianggap “musuh bersama”. Ya, “lem” ini jauh lebih kuat daripada kesamaan visi ke arah yang lebih baik.

Buku berjudul "Fear of Enemies and Collective Action"
Buku berjudul “Fear of Enemies and Collective Action” oleh Professor Ioannis D. Evrigenis (Source: Amazon)

Terdengar familiar? Hal serupa juga dialami oleh Indonesia. Bila pembaca ingat, sejarah peperangan di Indonesia berakar jauh sebelum datangnya penjajah di Indonesia. Bila pembaca familiar dengan tragedi Bubat yang cukup terkenal, maka pembaca paling tidak sudah memiliki salah satu contoh perpecahan internal di Indonesia sebelum datangnya penjajah. Perang yang diawali oleh pengkhianatan Mahapatih Gajah Mada ini menyebabkan perang antara Majapahit dan Kerajaan Sunda di tahun 1357. Perlu diingat, bangsa Belanda yang merupakah penjajah Indonesia sendiri menginjakkan kaki di Indonesia di tahun 1596 dengan diprakarsai ekspedisi de Houtman (Source: Encyclopedia Britannica).
Ketika Belanda mulai bertindak sebagai penjajah di Indonesialah berbagai kerajaan dan suku di Indonesia yang dulunya saling bertikai kemudian bersatu untuk meraih kemerdekaan. Garis sejarah Indonesia yang awalnya dipenuhi dengan peperangan saudara kemudian berubah menjadi perang antara rakyat Indonesia yang satu melawan penjajah.
Sekali lagi terbuktilah kekuatan dari maksim “kita lawan mereka” dalam menyatukan pihak yang awalnya bersebarangan pandangan. Ironis memang, tapi dapat dikatakan bahwa para penjajah memiliki andil cukup besar untuk mempersatukan Indonesia.

Ketika Sang Buas Telah Terusir

Lewat sudah masa-masa di mana rakyat Indonesia dijajah oleh pihak eksternal. Lega sudah hati para pejuang yang ingin melihat bangsanya bebas. Harapan bahwa Pancasila akan menjadi pedoman bangsa terbang tinggi bersamaan dengan terbangnya pesawat tempur para penjajah kembali ke negaranya.

Namun, perjuangan masih jauh dari kata berakhir. Seperti yang dikatakan sebuah pepatah kuno, “Musuh terbesarmu ada di dalam dirimu”. Begitu pula dengan sebuah Negara yang berdaulat; Sering kali konflik internallah yang malah menjadi duri dalam menahkodai perjalanan suatu negara.

Bangsa Indonesia yang sempat bersatu dengan tujuan yang sama kemudian kembali ke zona amannya. Sayangnya, terkadang rasa aman malah membawa lupa. Perbedaan yang dulu sempat terlupakan kembali ke permukaan.

Konflik Internal

Kepentingan pribadi dan golongan kembali muncul, tak peduli itu perbedaan karena kepentingan ekonomi, kekuasaan, maupun ideologi. Ragamnya juga termanifestasi dalam banyak bentuk, baik itu dalam bentuk verbal, fisik, maupun tekanan dalam bentuk lainnya.

Tidak usah jauh-jauh, kita cukup kembali ke beberapa bulan lalu saat berlangsungnya Pilkada DKI Jakarta. Seketika muncullah dinamika “kita lawan mereka” dalam tubuh Indonesia yang seharusnya satu. Yang lebih menyedihkan lagi, bahkan mereka yang beragama sama juga terpecah. Umat muslim Indonesia sesaat bagai terbelah dua dengan pihak yang satu menolak untuk menyolati pihak yang mendukung Basuki Tjahaja Purnama (Source: Tempo). Tiba-tiba Karena kekuasaan, isu ras dan agama diruncingkan untuk mencapai kepentingan beberapa pihak.

Bukan hanya itu, dewasa ini juga sering terdengar bisik-bisik gerakan ideologi yang tidak sepandangan dengan Pancasila. Baru-baru ini Habib Rizieq yang merupakan pimpinan tertinggi dari FPI memimpin sebuah ceramah online yang dilakukannya dari Mekkah. Dalam ceramahnya, Habib Rizieq berbicara mengenai ajaran khilafah dan mengajak umat muslim di Indonesia untuk menjalankan hal yang dianggapnya sebagai bagian penting dari agama Islam ini. “Siapa pun yang ingin memadamkan ajaran tentang khilafah, ajaran Islam, harus kita hadapi dengan tegar dan tegas, tanpa punya rasa takut sedikit pun kepada mereka”, seru Rizieq dengan lantang (Source: CNN). Walaupun Rizieq mengaku bahwa fitnah adanya apabila seseorang mengatakan khilafah akan menghapuskan NKRI, tapi tentunya sulit membayangkan bagaimana sistem khilafah dapat berjalan bersamaan dengan basis Pancasila yang dianut oleh Indonesia yang berpedoman pada hukum. Adalah tugas dari seorang Habib Rizieq untuk kemudian menjelaskan kepada publik bagaimana sistem khilafah yang dimaksudnya tidak akan bertabrakan dengan kepancasilaan yang merupakan hasil dari pengorbanan nyawa para pahlawan kemerdekaan Indonesia.

[Baca: Sang Pejuang KPK, Novel Baswedan]

Jelas bahwa perjalanan pendewasaan Indonesia sebagai sebuah Negara penuh dengan batu kerikil dan goncangan. Menghadapi kenyataan yang seperti itu, tentu saja kita berharap bahwa mereka yang menduduki helm pemerintahan dapat menjadi nahkoda yang baik dengan selalu mengingat kepentingan rakyat sebagai hal yang utama. Sayangnya tidak juga, justru anggota DPR yang diberikan amanat untuk menjaga kepercayaan dan kepentingan publik mengkhianati pihak yang memberikannya kekuasaan. Puluhan nama mencuat dalam kasus mega-korupsi e-KTP yang merugikan Negara dan pembayar pajak hingga triliunan rupiah. Tidak tanggung-tanggung, bahkan ketua DPR Setya Novanto resmi dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus ini (Source: Kompas). Kepercayaan publik terhadap para pemimpinnya-pun menjadi semakin terkikis ketika pihak-pihak yang diharapkan dapat membuka cetak biru kasus ini seakan-akan dibungkam oleh pihak yang tidak diketahui. Mulai dari penyelidik KPK Novel Baswedan yang disiram air keras (Source: Kompas), hingga saksi kunci Johannes Marliem yang bunuh diri dengan meninggalkan bukti rasa takut terhadap keselamatan dirinya (Source: Reuters).

Cuplikan Berita Johannes Marliem Tewas Tertembak
Cuplikan Berita Johannes Marliem Tewas Tertembak (Source: JawaPos)

Bersatu dengan Visi

Akhirnya, perlu dimengerti bahwa perjuangan menuju kemerdekaan yang sejati masih jauh dari kata selesai. Konflik internal dapat terbukti sebagai tantangan yang lebih berat untuk diatasi. Tak lagi jelas batasan antara lawan dan kawan. Ketika curiga muncul di tengah-tengah masyarakat, maka dia dapat menjadi racun yang kuat untuk memecah persatuan. Jelas perlu dimengerti bahwa kemerdekaan dan persatuan bukanlah hal yang dapat dianggap sebagai hal yang cuma-cuma.
Marilah kita sebagai rakyat Indonesia berhenti mengantagonisasi satu sama lain. Memaknai kemerdekaan sebagai amanat untuk berjalan bersama menuju kebaikan sejatinya adalah mimpi dari pahlawan. Dan bila memang harus ada “kita lawan mereka”, biarlah itu menjadi “Rakyat Indonesia lawan perpecahan”.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.