Papan Bunga Baper

Pilkada DKI Jakarta sudah berakhir cukup lama, tapi belum bapernya pendukung kedua kubu pendukung Ahok-Djarot dan Anies-Sandi. Halaman sosial media masih penuh dipenuhi dengan tulisan panjang berisi tumpahan hati penduduk Indonesia. Ya, Indonesia, bukan Jakarta saja.

Ternyata, tak cukup di dunia maya saja para rakyat Indonesia berekspresi. Pendukung Ahok-Djarot yang harus rela pasangan favoritnya terkalahkan pada Pilkada Jakarta lalu berbondong-bondong mengirimkan karangan bunga ke balai kota. Tak main-main, pada tanggal 27 April lalu sudah terpajang sekitar 3.200 papan bunga berisi apresiasi terhadap Ahok dan Djarot (Source: Media Indonesia). Terbukti juga di sini bahwa baper itu sifatnya menular.  Buktinya, rakyat Medan juga berbondong-bondong mengirimkan karangan bunga ke Lapangan Merdeka di Medan (Source: Tribun News). Tampaknya memang Pilkada Jakarta kemarin patut disebut sebagai Pilkada rasa Pemilu, menarik perhatian seluruh rakyat Indonesia.

Karangan Bunga untuk Ahok Djarot
Sejumlah karangan bunga yang ditujukan untuk Gubernur DKI Jakarta Ahok dan Wakil Gubernur Djarot tertata di kompleks Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (26/4) (Source: Metro TV)

Memang juga dasarnya orang Indonesia yang terlalu kreatif, isi dari papan bunga  ini juga jauh dari kata konvensional. Banyak papan bunga berisi gombalan-gombalan yang idenya bisa dibilang datang dari luar Bumi kepada Ahok-Djarot. Hashtag #GombalinAhok juga sukses menjadi trending topic dunia di Twitter (Source: Tribun News).

Akan tetapi, tidak semua pihak senang dengan adanya gelombang baper berjamaah ini. Banyak pendukung Anies-Sandi yang merasa risih dengan banyaknya papan bunga gagal move on di balai kota dan bahkan di kota-kota lain. Di sisi yang berseberangan, Fadli Zon berkomentar bahwa pengiriman papan bunga ini adalah sebuah gimik belaka yang merupakan akal-akalan dari “Tim pencitraan” kubu Ahok-Djarot (Source: Kompas). Namanya juga Negara Demokrasi, tentu saja pendukung Anies-Sandi juga bebas untuk menyuarakan isi hati mereka. Beberapa papan bunga berisi dukungan terhadap Anies-Sandi dan juga ajakan untuk move on dari Ahok-Djarot juga ternyata terselip di antara ribuan papan bunga gagal move on untuk Ahok-Djarot (Source: Tribun News).

Papan Bunga Move On
Papan Bunga Move On (Source: Tribun News)

Sayangnya, “unjuk rasa” ini dibubarkan oleh beberapa oknum tidak bertanggung jawab pada hari Senin, 1 May 2017 kemarin. Beberapa orang yang termasuk di dalam aksi buruh memperingati May Day malah menghancurkan dan membakar beberapa karangan bunga di balai kota tersebut. Ketua Federasi Serikat Pekerja Logam, Elektronk, dan Mesin Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP LEM SPSI) DKI Jakarta Arif Inandi menyatakan dalam orasinya bahwa mereka menolak bla sampah karangan bunga ini dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat (Source: Tribun News). Padahal, Ahok sendiri sudah mengatakan bahwa karangan bunga tersebut sebenarnya dapat dijual kembali ke tukang bunga dengan harga Rp 50.000 per-papan (Source: CNN). Tindakan anarkis dari oknum tidak bertanggung jawab ini sungguh disayangkan, karena pada akhirnya, alih-alih membuat orang mendengar aspirasi mereka, banyak orang malah merasa tersinggung dan kehilangan rasa simpatinya terhadap pihak tersebut.

Karangan Bunga dibakar Massa
Karangan Bunga dibakar Massa (Source: gerilyapolitik.com)

Namun begitu, ada beberapa pesan yang patut dipikirkan oleh kedua kubu:

1. Kubu Ahok-Djarot

Memang dapat dimaklumi bila banyak pendukung Ahok-Djarot memiliki perasaan yang kuat terhadap pasangan favorit mereka ini. Terlebih lagi bila kita melihat skema kampanye Ahok-Djarot, banyak gerakan kampanye mereka yang datangnya dari relawan. Artinya, ada begitu banyak orang yang memiliki rasa simpati yang mendalam terhadap Ahok-Djarot sehingga orang-orang tersebut mau merelakan waktu hingga uangnya untuk mendukung Ahok-Djarot.

Akan tetapi, perlu diingat juga bahwa masa jabatan Ahok-Djarot masih tersisa cukup lama, yaitu sampai Oktober tahun ini.  Tidak ada yang menyalahkan keinginan simpatisan Ahok-Djarot untuk menunjukkan dukungannya. Akan tetapi, waktu dari pengiriman karangan bunga ini tentunya dapat dijadwalkan dengan lebih baik, yaitu menjelang akhir jabatan Ahok-Djarot. Secara etis juga datangnya karangan bunga ini terkesan terlalu dekat dengan pengumuman menangnya pasangan Anies-Sandi pada Pilkada DKI Jakarta kemarin. Implikasi yang kemudian muncul dari beberapa tulisan di karangan bunga tersebut adalah beberapa simpatisan yang lebih ekstrim terlihat kurang mengapresiasi sistem demokrasi yang ada di Indonesia. Sebagai bagian dari suatu sistem demokrasi, tentunya pilihan dan pandangan kita tidak selamanya akan selalu menjadi pandangan mayoritas di publik. Walaupun terkadang pilihan yang muncul dari hasil sebuah demokrasi terkesan “aneh” untuk anda, mungkin saja pilihan tersebut adalah pilihan yang paling baik untuk orang lain. Proses pendewasaan dalam berdemokrasi bukan saja hanya tentang etika dalam kemenangan, tetapi juga etika dalam menerima kekalahan. Dalam setiap pilihan, ada sesuatu hal yang dapat dipelajari, direfleksikan, dan dijadikan panduan dalam menentukan arah dari Negara kita di masa depan.

Terlebih lagi, jangan sampai tercipta perasaan “senang” ketika program dari pasangan lawan anda gagal. Justru seharusnya pendukung dari kubu yang kalah memiliki kedewasaan untuk menjadi pengawas atau malah agen untuk melancarkan dan menyukseskan kebijakan dari kubu yang menang. Pada akhirnya, kebijakan publik yang sukses akan dinikmati oleh seluruh rakyat tanpa diskriminasi di bidang siapa memilih siapa. Berikanlah kesempatan untuk pemimpin baru kita bekerja dan membuktikan diri mereka.

2. Kubu Anies-Sandi

Tentunya, selamat yang sebesar-besarnya bagi mereka yang kemarin memilih Anies dan Sandi. Suara dan aspirasi dari pendukung Anies-Sandi telah sukses bergabung dan terformulasi dalam terpilihnya Anies-Sandi.

Sebagai pihak yang menang, etika dalam kemenangan menjadi sangat penting dalam memastikan hadirnya demokrasi yang dewasa. Kemenangan dalam berdemokrasi bukan berarti saya benar dan anda salah. Bukan juga kemenangan dalam berdemokrasi berarti yang mayoritas menindas minoritas. Sejatinya, Demokrasi berarti mayoritas (secara pandangan) memimpin dengan selalu melindungi hak dan suara minoritas.
Kabar baiknya, elegansi dari kemenangan berdemokrasi ditunjukkan oleh Anies dan Sandi. Keduanya mengapresiasi pengiriman bunga tersebut tanpa merasa tertantang posisinya sebagai gubernur dan wakil gubernur terpilih. Keduanya dapat melihat sisi positif juga di mana kiriman bunga ini meningkatkan perekonomian bagi para pengrajin bunga yang belakangan sepi pesanan (Source: Tempo; detik.com). Alangkah baiknya bila pendukung Anies-Sandi mengikuti contoh yang sangat baik yang ditunjukkan oleh pemimpin yang mereka pilih.

Pada akhirnya, kita penduduk Indonesia hidup di dalam sebuah sistem demokrasi yang berada dalam sebuah proses pendewasaan. Jelas rakyat Indonesia sudah mengerti pentingnya suara mereka dalam menentukan arah dari demokrasi Indonesia. Akan tetapi, demokrasi bukan hanya tentang menunjukkan suara. Demokrasi yang berkualitas datang dari etika berdemokrasi yang baik dengan penyampaian yang baik. Mari kita sama-sama merefleksikan diri untuk lebih mengerti lagi esensi dari demokrasi. Pada akhirnya, kita semua menginginkan hal yang sama, Indonesia yang lebih baik.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.