Pilkada DKI Tidak Rasional?

Cagub Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan cawagub Djarot Saiful Hidayat berhasil mengungguli dua kandidat lainnya pada Pilkada DKI Jakarta putaran pertama yang digelar pada tanggal 15 Februari 2017 lalu. Kemenangan ini tentunya terasa manis bagi kubu Ahok-Djarot yang harus melewati terpaan kasus alegasi penistaan agama.

Sayangnya bagi paslon nomor 2 ini, pesta demokrasi di DKI Jakarta belum tuntas. Rekapitulasi KPU DKI Jakarta menunjukkan bahwa perolehan suara paslon 2 adalah 42,99%, hanya terpaut sekitar 3% dari paslon nomor 3 Anies-Sandi yang memperoleh 39,95% total suara (Source: Detik.com). Karena tidak ada calon yang melewati angka 50%, maka putaran kedua harus dilakukan untuk menentukan siapakah yang berhak memegang setir DKI 1.

Hasil Quick Count Pilkada DKI Ronde 1 (Source: Liputan 6)

[Baca: Analisa Skenario Pilkada: Ahok Kalah di Putaran ke-2]

Beberapa pengamat politik menganggap bahwa Ahok-Djarot telah melewatkan kesempatan emasnya untuk memenangkan kursi DKI 1 dengan tidak memenangkan Pilkada ini dalam satu putaran saja. Pasalnya, besar kemungkinan bahwa pendukung Agus-Sylvi akan melompat ke perahu Anies-sandi. Transfer pendukung ini, walaupun tidak terinstitusionalisasi, agaknya lebih bersifat sebagai sebuah respons terhadap skandal dugaan penistaan agama oleh Ahok, daripada karena alasan kedekatan ideologi dan filosofi.

Survei Pra-Pilkada Putaran 2

Dugaan ini kurang lebih terkonfirmasi oleh beberapa survey yang beredar tak jauh menjelang Pilkada pada tanggal 19 April 2017 nanti. Tiga lembaga, Saiful Mujani Research Center (SMRC), Indomatrik, dan Median, menemukan pada surveynya bahwa elektabilitas Anies-Sandi saat ini diperkirakan lebih baik daripada elektabilitas Ahok-Djarot, walaupun tingkat elektabilitas yang dilaporkan ketiga lembaga ini terpaut cukup jauh.

Hasil yang dilaporkan oleh SMRC bisa dibilang tidak pasti untuk menentukan siapakah yang akan memenangkan pesta demokrasi di Jakarta ini. SMRC melaporkan bahwa elektabilitas dari Ahok-Djarot adalah 46.9%, sedangkan Anies-Sandi berada pada angka 47.9% dan sisanya menjawab tidak tahu atau rahasia. Karena jumlah sampel yang diambil hanya 800 orang saja, maka tingkat kesalahan (margin of error) dari survey ini menjadi tinggi, yaitu pada angka 4.7% (Source: Kompas). Artinya, apabila kita melakukan penghitungan yang sebenarnya, maka bisa jadi elektabilitas kedua calon bertukar posisi secara drastis. Hal yang sama juga dapat dibillang untuk lembaga Indomatrik yang mencatat elektabilitas Ahok-Djarot pada angka 46,17% dan elektabilitas Anies-Sandi di angka 48,40% dengan tingkat kesalahan 2,8% (Source: Detik.com).

Walaupun hasil dari kedua lembaga sebelumnya tidak konklusif, temuan dari lembaga Median terlihat lebih memastikan. Median melaporkan bahwa elektabilitas Ahok-Djarot ada di angka 43,5% sedangkan Anies-Sandi ada di angka 49,8%. Survei terhadap 1200 orang warga DKI Jakarta ini memiliki tingkat kesalahan 2,9% (Source: Kompas). Artinya, dengan catatan bahwa metodologi pengambilan sampel dan survey dilakukan dengan benar, maka benar adanya elektabilitas pasangan Anies-Sandi lebih baik daripada Ahok-Djarot saat ini, walaupun angka pastinya belum jelas.

Terlepas dari ini semua, ada hal yang patut menjadi sorotan dari hasil penelitian ketiga lembaga ini. Hal tersebut adalah “keunikan” dari warga Jakarta dalam menentukan pilihannya.

Warga Jakarta Adalah Pemilih yang Tidak Rasional?

Selain menanyakan siapa yang kira-kira akan dipilih oleh responden survei, SMRC dan Median juga menanyakan alasan dari pilihan para responden. Jawaban yang didapat oleh kedua lembaga tersebut terlihat signifikan dan searah.

Menurut temuan SMRC, mayoritas pemilih Ahok-Djarot memilih pasangan tersebut karena bukti kerja mereka yang nyata (41%) dan pengalaman pemerintahan (22%) yang dimiliki oleh pasangan ini. Sedangkan mayoritas pemilih Anies-Sandi sebesar 32,4% menyatakan bahwa mereka memilihan paslon 3 ini karena memiliki agama yang sama dengan mereka.

Temuan seirama juga didapati oleh Median. Elektabilitas Ahok-Djarot tidak berbanding lurus dengan evaluasi kinerja mereka oleh warga Jakarta. Berikut adalah daftar evaluasi dari responden survey lembaga median:

  1. Mampu membenahi Jakarta: Ahok-Djarot (44,9%) vs Anies-Sandi (40,9%)
  2. Memiliki program yang paling baik: Ahok-Djarot (46,1%) vs Anies-Sandi (39,3%)
  3. Berpengalaman : Ahok-Djarot (65,9%) vs Anies-Sandi (23,2%)
  4. Tingkat kepuasan terhadap kinerja Ahok sebagai gubernur: 65,6% responden merasa puas

Umumnya, dengan evaluasi seperti ini, Ahok-Djarot seharusnya menang mudah setidaknya pada survey ini. Akan tetapi, survei ini juga menyatakan bahwa elektabilitas Ahok-Djarot hanyalah 43,5%, kalah jauh dari Anies-Sandi (49,8%). Pertanyaan lanjutan dari Median menemukan bahwa 67,1% pemilih Ahok memiliki alasan rasional yang meliputi kinerja, pengalaman, dan semacamnya. Hanya 18,2% dari pemilih Ahok menyatakan alasan emosional yang meliputi ketegasan, kepedulian, agama, dan kemerakyatan. Ini berbanding terbalik dengan pemilih Anies yang mayoritas memilihnya karena alasan emosional (60,4%) (Source: Detik.com).

Lalu Siapakah yang Akan Jadi Pemenang?

Tentunya pertanyaan ini akan selalu menghantui semua diskusi mengenai Pilkada. Sayangnya, kali ini jawabannya adalah tidak pasti, walaupun harus diakui bahwa pasangan Anies-Sandi sepertinya memiliki sedikit keunggulan dari kubu Ahok-Djarot saat ini. Sejarah dari Pilkada dan Pemilu di Indonesia menunjukkan bahwa selama ini lembaga-lembaga survei di Indonesia sudah cukup baik dalam ketepatan prediksinya. Akan tetapi pada Pilkada kali ini, tingkat kesalahan (margin of error) yang ditemui lembaga-lembaga ini cukup besar untuk dapat membalikkan prediksi mereka. Walaupun begitu, temuan lembaga-lembaga survei di Indonesia ini juga konsisten menunjukkan bahwa Anies-Sandi unggul dari Ahok-Djarot dari sisi elektabilitas. Dalam literatur ilmu statistik dan ekonometrika, gabungan dari prediksi ini secara empiris sering kali menjadi alat prediksi terbaik untuk sebuah event (Source: Allan Timmermann). Dengan begitu, maka bila penulis harus menebak siapakah yang akan memenangkan Pilkada Jakarta nantinya, maka jawaban objektifnya adalah Anies-Sandi.

Tentu saja ini bukan berarti Ahok-Djarot tidak mungkin memenangkan perebutan suara warga Jakarta ini. Beberapa kejadian besar akhir-akhir ini menunjukkan bahwa  lembaga survei beramai-ramai salah dalam memprediksi hasil dari suatu kejadian. Contohnya saja pemilu Amerika Serikat. Sebanyak 18 dari 20 lembaga survey menyatakan bahwa Hillary Clinton kemungkinan besar akan menjadi pemenang dari pemilu presiden Amerika Serikat (Source: Independent UK). Akan tetapi nyatanya Donald Trump dari partai Republican malah menang besar dari Hillary, bahkan mengalahkan pasangan dari partai Demokrat ini di distrik-distrik kunci yang biasa dimenangkan oleh Demokrat. Hal yang serupa juga terjadi pada vote untuk Brexit di United Kingdom.

Hasil Trump vs Hillary dan Brexit juga tidak sesuai prediksi

Kesalahan dalam survei ini biasanya disebabkan oleh kesalahan yang dinamakan non-sampling error, yaitu kesalahan di luar dari tingkat kesalahan (margin of error). Biasanya, kesalahan tipe ini disebabkan oleh permasalahan etik atau kompetensi. Dalam kasus ini, mungkin saja responden survei tidak menjawab pilihannya yang sebenarnya karena takut dinilai buruk. Contoh, responden muslim menjawab memilih Anies walaupun dia adalah pendukung Ahok karena takut dipandang melawan ajaran agamanya.

Apapun itu, kita hanya dapat menunggu hasil dari pemungutan suara pada tanggal 19 April 2017 mendatang.  Siapapun yang anda pilih nantinya, gunakanlah hati dan pikiran anda untuk menentukan pasangan yang terbaik untuk memimpin Jakarta.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.