SBY, Kicauan, dan Pertemuan

Nampaknya tak cukup puas menuangkan isi hati melalui lagu dan konferensi pers, SBY membawa “kicauan” hatinya ke media sosial.

Nama besar SBY kerap muncul membumbui pembicaraan rakyat Indonesia akhir-akhir ini. Image seorang tokoh yang selama 10 tahun terakhir dianggap sangat berwibawa, tegas, dan kebapakan seakan tersapu badai isu yang mencuat akhir-akhir ini, menunjukkan sisi lain dari tokoh kenegaraan yang kita hormati ini. Mungkin juga ini yang dinamakan cinta tak bertepi sebagai orang tua. Upaya SBY dalam berbagai upaya untuk memenangkan anaknya, Agus Harimurti, dalam pertandingan menuju DKI 1 tampaknya telah menghapus kelihaian sang mantan Jendral dalam menggerakkan bidak-bidak politisnya yang berakhir menimbulkan blunder sana-sini.

Perseteruan antara SBY dan Ahok pada khususnya telah meninggalkan borok pada image mantan presiden RI yang ke 6 ini. Terlepas dari benar atau tidaknya tudingan percobaan makar dan tudingan bahwa SBY berusaha mempengaruhi Ma’aruf, seagaknya langkah-langkah yang di ambil SBY dalam menangani terpaan isu ini terlihat tidak elok. Sebagai seorang Negarawan, banyak yang berharap SBY dapat membawakan angin segar dengan memberikan respons-respons yang positif dan membangun. Akan tetapi, bukannya memadamkan api, SBY terlihat seperti menuangkan bensin ke bara api dengan dua konferensi persnya yang sifatnya dapat ditafsirkan “membakar” dan berakhir dengan kicauan nyaring di media sosial.

Bukan sebuah rahasia lagi bahwa SBY mengharapkan adanya sebuah pertemuan spesial dengan Presiden Joko Widodo. Betapa tidak, sangat mungkin bila sang mantan Presiden merasa insecure dengan dekatnya Jokowi dengan tokoh-tokoh politik nasional lainnya, sedangkan pertemuan terakhir mereka (selain pada event-event external) terjadi pada tahun 2014 silam.  Apakah kicau-kicau ini dapat diartikan sebagai upaya seekor burung yang terjatuh dari sarangnya untuk mencari pertolongan dan perhatian, kita tidak akan pernah tahu dengan pasti. Akan tetapi, bila memang itu tujuannya, sepertinya taktik ini justru telah menjadi sebuah langkah yang salah. Bila diingat kembali, Jokowi pernah mengomentari pada hari Minggu 22 Januari 2017 bahwa kicauan-kicauan yang bersifat mengeluh seperti yang beberapa kali dilontarkan oleh SBY adalah sifatnya tidak perlu. Terlebih lagi, bila SBY benar ingin menemui sang Presiden incumbent, telah ada tata cara resmi yang dapat ditempuh SBY untuk dapat bertemu sang Presiden. Tentunya pertemuan tersebut hanya dapat diberikan izin bila sifatnya menguntungkan Negara, dan bukan menjadikan sang Presiden kotak pengaduan untuk hanya satu orang dari  lebih dari 250 juta penduduk rakyat Indonesia saja.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.