Indonesia dan Riba Berbalut Kedok Produk Finansial Syariah

Indonesia merupakan Negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Seiringan dengan ini, banyak institusi-institusi finansial baik yang lokal maupun internasional mulai menawarkan produk finansial berbalut titel syariah.

Untuk menelaah hal ini lebih lanjut, marilah kita merujuk kepada definisi dari riba sendiri. Riba secara harafiah bermakna Ziyadah atau tambahan. Dalam konteks transaksi finansial, riba diartikan sebagai penetapan bunga (melebihkan) pada pinjaman yang akan dibayarkan pada masa pengembalian hutang.

Riba merupakan dosa yang cukup serius dalam Islam, sebagaimana dituliskan pada surat Al Baqarah ayat 275 sebagai berikut:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

 

Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah [2]: 275)

Sekarang, mari kita melakukan analisa mengapa banyak Bank Syariah di Indonesia hakikatnya hanya merupakan suatu bentuk riba lainnya:

1.PERAN BANK SYARIAH SEBAGAI PEMODAL DAN PENGUSAHA

Secara umum, aktivitas bank dapat dibagi 2

    1. Bank berperan sebagai pengusaha ketika seseorang menyimpan uangnya ke bank tersebut baik dalam bentuk investasi atau tabungan.
    2. Bank berperas sebagai pemodal ketika seorang pengusaha meminjam uang dari bank tersebut.

Akad yang bekerja pada poin (a) adalah akad Mudharabah (kerja sama) di mana bank mendapat amanah untuk mengelola uang tersebut di usahanya sendiri, sedangkan ketika melakukan poin (b) akad yang berjalan adalah akad hutang piutang di mana bank tidak semestinya menyalurkan uang yang diterima pada (a) dengan akad Mudharabah kepada pengusaha lain.

Pada nyatanya, semua bank Syariah di Indonesia melakukan hal ini.

2. BANK SYARIAH TIDAK MEMILIKI USAHA RIIL

Semua produk Bank Syariah di Indonesia tidak menerapkan system untung dan rugi dan pada hakikatnya hanyalah pembiayaan dan pendanaan. Poin ini memperkuat poin sebelumnya dimana Bank Syariah di Indonesia terlihat hanya memutar-mutar uang nasabah sebagai penyalur saja dan bukan pengelola dalam konteks pengusaha. Untung dari usaha seperti ini hukumnya haram sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi

3. BANK SYARIAH TIDAK MENJALANKAN HUKUM UNTUNG RUGI

Hampir semua atau bahkan semua bank Syariah di Indonesia mewajibkan pengusaha untuk mengembalikan modal 100% walaupun usaha tersebut merugi. Ini jelas- jelas tidak sesuai dengan system bagi hasil dalam ekonomi syariah.

 

Tidak hanya berhenti di sini, bahkan salah satu bank Syariah di Indonesia mengeluarkan bond (surat hutang) yang jelas-jelas merupakan produk riba. Ini membuktikan bahwa bahkan bila kita menutup mata atas 3 poin di atas, dana yang digunakan bank tersebut sebagian hukumnya adalah haram.

Fenomena Bank Syariah di Indonesia ini sungguh disayangkan, dan pemerintah agaknya terlihat seperti melakukan pembiaran terhadapnya. Semoga negara kita dijauhkan dari riba dan hal-hal yang batil. Nauzubillahiminzalik.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.