Badminton Cermin Sumpah Pemuda

Tak terasa sudah 89 tahun lamanya sejak Sumpah Pemuda pertama kali dicetuskan pada Kongres Pemuda Kedua pada tahun 1928:

  • Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
  • Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
  • Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Ideologi satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa inilah yang membuka jalan menuju satu Indonesia di saat Indonesia masih terpecah antar suku pada saat itu. Pada hari ketiga kongres yang dilaksanakan pada tanggal 26-28 Oktober tersebut, dikumandangkanlah lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya (Lacutonsina, Rafidi, Napitu, & Naibaho, 1996).

Kata “pemuda” yang ditautkan terhadap ideologi ini sendiri menunjukkan betapa pentingnya peran pemuda Indonesia dalam mewujudkan Indonesia yang satu. Edukasi yang dianggap sebagai hal sentral dari kemajuan Indonesia adalah domain bagi pemuda-pemudi Indonesia saat itu (Source: The Jakarta Post). Pendidikan dan juga hayat yang kuat dari para pemuda inilah yang akhirnya menjadi aset kuat dalam upaya Indonesia lepas dari belenggu penjajahan. Maka tak heran pula apabila kemudian nama pemuda kerap disangkut pautkan dengan cerita heroisme dan kemajuan bangsa.

Pemuda, Dulu dan Sekarang

Lain dulu, lain pula sekarang. Walaupun pemuda-pemudi Indonesia terus berjuang dengan jiwa dan raganya untuk Indonesia, sekarang sudah tidak ada lagi suatu wujud musuh eksternal yang harus bersama-sama dilawan. Akan tetapi, ini bukan berarti habis sudah perjuangan para pemuda Indonesia. Justru tantangan yang lebih besar menanti, yaitu bagaimana menjaga kerukunan dan tenggang rasa antar suku, ras, dan agama di Indonesia.

Seperti yang kita ketahui, belakangan terlihat dengan jelas bagaimana ketegangan kerap tumbuh di tengah-tengah masyarakat Indonesia, entah itu karena faktor suku, agama, hingga ras.

Tidak usah jauh-jauh, kebiasaan menempelkan sebuah label terhadap suatu suku, agama, dan ras saja juga sudah merupakan suatu bentuk pudarnya arti dari sumpah pemuda di tengah masyarakat kita. Untungnya, walaupun ada sebagian pemuda kita yang lebih mementingkan perbedaan daripada kesatuan, banyak pula juga pemuda Indonesia yang sudah tidak peduli dengan tetek bengek label. Pemuda-pemudi tersebut adalah mereka yang percaya bahwa bila kita bergandengan tangan, ada sejuta potensi yang dapat kita raih sebagai pemuda Indonesia. Yuk, kita lihat beberapa pemuda Indonesia kita yang dengan teguh memegang sumpah pemuda, dan memberikan dirinya 100% demi membanggakan dan kemajuan Indonesia.

Garuda Muda Indonesia di French Open Super Series 2017

Siapa tak kenal olahraga tepok bulu yang bernama badminton. Cabang olahraga ini selalu menjadi kebanggaan bangsa Indonesia sejak dulu kala. Bukan hanya cabang olah raga ini selalu sukses mengumandangkan nama dan lagu nasional Indonesia di mata internasional, badminton juga sukses menyatukan pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang, menunjukkan bagaimana kuatnya potensi Indonesia apabila pemuda-pemudinya bekerja sama untuk suatu tujuan yang baik.

Polii & Apri

Kabar gembira juga datang dari ganda putri kita, Greysia Polii dan Apriyani Rahayu yang sukses memenangkan gelar juara badminton cabang ganda putri di French Open 2017. Jalan dua dara untuk memenangkan titel ini ini dapat dibilang sangat terjal. Bagaimana tidak, duo yang baru saja dipasangkan ini harus menghadapi ganda putri peringkat 6, 5, dan 1 dunia untuk dapat mencapai final (Source: Badminton World Federation). Dan walaupun ganda putri Korea yang menjadi lawan mereka di final juga baru saja dipasangkan, ganda putri korea tersebut baru saja memenangkan gelar Denmark Open Super Series Premier di minggu sebelum kejuaraan French Open Super Series dilangsungkan.

Greysia dan Apriyani
Greysia dan Apriyani (Source: Jawapos)

Sosok Polii dan Apri di lapangan dapat terbilang cukup berbeda. Polii sendiri adalah seorang keturunan tionghoa kelahiran Jakarta, dan Apri sendiri berdarah Sulawesi. Walau begitu, kekompakan mereka terlihat sangat jelas.

Greysia Polii yang merupakan juara Asian Games bersama partnernya yang sedang cedera, Nitya Krishinda Maheswari, terlihat selalu dapat membimbing Apri di lapangan. Hal ini tentunya sangat penting untuk Apri yang masih minim pengalaman, mengingat umurnya yang masih 19 tahun (Source: Badminton World Federation). Di sisi lain, Apri yang terlihat memiliki stamina dan power lebih kuat terlihat sangat bersemangat mengambil posisi sebagai pemain belakang yang bertugas merontokkan pertahanan pemain Korea dengan smash-smash kerasnya. Pengembalian-pengembalian tanggung pemain Korea karena smash inilah yang kemudian akan disambar oleh Polii di depan net.

Kombinasi Polii dan Apri ini tidak dapat dibendung oleh pemain Korea yang gagal mengembangkan permainannya. Yang membuat salut, Apri yang terlihat sangat gembira dengan titel Super Series pertamanya ini tetap saja menunjukkan budaya sopan Indonesia dengan mencium tangan wasit usai pertandingan (Source: Liputan 6).

Owi & Butet

Tontowi Ahmad dan Lilyana Natsir juga sukses memboyong gelar juara pada kejuaraan French Open 2017 yang berlangsung 2 hari setelah hari sumpah pemuda. Tak main-main, kemenangan ini menandakan status Lilyana sebagai seorang legenda hidup yang telah memenangkan 50 gelar kejuaraan internasional.

Tentunya prestasi gemilang yang dibuat oleh Lilyana Natsir ini tak lepas dari kontribusi pasangannya di lapangan. Lilyana Natsir yang merupakan seorang wanita Manado keturunan Tionghoa dan Tontowi Ahmad yang merupakan lelaki keturunan Jawa menunjukkan bahwa tak ada gunanya bagi kita untuk melulu terbelenggu oleh perbedaan. Malah seharusnya perbedaan ini menjadi senjata utama untuk saling mengisi. Hal ini sudah terbukti oleh dinamika Owi dan Butet di lapangan. Butet yang notabenenya jauh lebih senior daripada Owi selalu terlihat dapat membimbing Owi di lapangan, memberikan instruksi di keadaan genting, dan menenangkan Owi saat Owi mulai melakukan kesalahan karena gugup. Di sisi lain, Owi yang fisiknya jauh lebih bugar terlihat dapat meng-cover lapangan dengan sangat baik sehingga Lilyana Natsir yang umurnya juga terbilang cukup senior untuk seorang pemain bulu tangkis tidak usah bergerak terlalu banyak. Hal ini terlihat semakin jelas ketika Lilyana Natsir mengalami cidera berkepanjangan sejak kejuaraan China Open di tahun 2016 kemarin (Source: detik.com). Tapi bukannya mengendur, Owi dan Butet malah sukses memenangkan gelar kejuaraan dunia, Indonesia Open, dan French Open di tahun 2017 ini (Source: Badminton World Federation).

Poin ke 21 yang didapatkan Owi dan Butet di gim kedua melawan peringkat 1 dunia asal Cina, Zheng Siwei dan Chen Qingchen, kemudian diikuti gemuruh penonton di stadium. Owi seketika bersujud sukur di tengah lapangan bersamaan dengan Lilyana Natsir yang membuat tanda salib untuk menunjukkan rasa syukur atas kemenangan mereka (Source: Kompas). Selebrasi ini sukses menunjukkan arti sumpah pemuda kepada kita semua. Walaupun kita berbeda gender, suku, ras, dan agama, kita sebagai pemuda-pemudi Indonesia memiliki potensi yang tidak terbatas apabila kita saling bekerja sama dan saling mengisi.

Selebrasi ini juga mendapatkan perhatian dari presiden kita Joko Widodo. Lewat akun Facebooknya, Jokowi mengucapkan selamat dan terima kasih untuk pemain kita yang sudah memberikan kado spesial untuk hari sumpah pemuda.

Ucapan Selamat Jokowi Kepada Tim Badminton Indonesia
Ucapan Selamat Jokowi Kepada Tim Badminton Indonesia (Source: Jokowi Facebook Official)

Sekali lagi, selamat untuk garuda muda kita. Kita boleh berbeda, tapi kita tetap satu, Indonesia.

 

Referensi:

Latuconsina, H., Rafidi, D., Napitu, F., & Naibaho, J. E. (1996). Pelajaran sejarah: untuk SMU: kurikulum 1994. Jakarta: Erlangga.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.