Borok Indonesia Dalam Satu Video: Perhakiman Jalanan, Penegak Hukum vs Rakyat Sipil & SARA

Belakangan beredar sebuah video di media sosial yang benar-benar mengusik benak penulis. Video yang dimaksud menangkap bagaimana beberapa orang memukuli seseorang di jalan raya yang tidak memberikan perlawanan. Lebih parahnya, alih-alih memberhentikan kebrutalan ini, seseorang berseragam polisi malah ikut memukuli korban yang tak berdaya. Yang kemudian menjadi sesuatu yang patut diprihatinkan adalah bagaimana terdapat banyak unsur di dalam video ini yang menunjukkan borok dari rakyat Indonesia di dalam kesehariannya, baik itu disadari maupun tidak.

Kejadian di Video

Video dimulai dengan penampakan di mana seseorang bersinglet putih dipukuli oleh sekelompok orang di tengah jalan raya. Korban bernama Waskito yang mengalami pendarahan di kepalanya karena pukulan dan tendangan warga tersebut kemudian berusaha memeluk kaki seorang polisi bernama Afifat yang berada di tempat kejadian, sepertinya dengan harapan bahwa polisi tersebut dapat melindunginya dari amukan warga. Bukannya menolong, Bripda Afifat malah tersulut amarahnya dan ikut memukuli Waskito.

Terlihat terintimidasi dengan kejadian ini, Waskito kemudian lari ke dalam mobilnya. Tampak warga tidak tinggal diam dan melempar kunci mobil Waskito ke jalanan. Bahkan juga terdengar warga yang memanas-manasi kejadian dengan menuduh bahwa Waskito “memegang besi”, mengimplikasikan bahwa Waskito akan memberikan perlawanan. Bripda Afifat yang terlihat semakin terpancing emosinya melontarkan makian “bajingan” dan berusaha memaksa Afifat turun dari mobilnya dengan menjambak rambut korban. Sebuah poin menarik di tengah keributan ini adalah terdengar seorang warga bertanya “Kristen ya? Kristen ya?” dengan nada suara yang agresif.

Waskito kemudian diseret ke sebuah kafe di dekat tempat kejadian. Waskito yang menjawab pertanyaan dengan suara tinggi kemudian ditendang mukanya oleh Bripda Afifat. Di akhir video, terlihat Waskito diamankan dengan menggunakan sebuah truk.

Keterangan Polisi

Seperti dikutip dari detik (Source: Detik.com), menurut Humas Polri Brigjen Rikwanto, kejadian bermula saat Waskito Budi Utomo (22) mengendarai mobil Avanzanya dengan ugal-ugalan. Waskito dikabarkan berhenti di tengah jalan tanpa sebab dan menimbulkan kemacetan di Jalan Letnan Sudani dan pertigaan Gang Panca, Purbalingga. Afifat yang kemudian dimintai tolong warga untuk menertibkan mobil tersebut kemudian memerintah Waskito untuk menepikan mobilnya. Alih-alih mematuhi perintah Afifat, Waskito malah melotot dan memaki Afifat.

Setelahnya, Waskito memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil melakukan manuver zigzag yang hamper menyebabkan tabrakan dengan sebuah motor dan truk. Mobil kemudian dibawa memutar-mutar di perempatan lampu merah Karang Kabur Jl MT Haryono yang membahayakan dan menyulut amarah pengemudi lainnya. Kelanjutan kejadian adalah seperti apa yang terlihat di video di atas.

Video yang menarik perhatian kepolisian setempat ini ternyata juga menyeret Afifat ke persidangan kode etik pada hari Selasa, 7 Maret 2017. Hasil persidangan tersebut menyatakan bahwa Afifat terbukti bersalah melakukan perbuatan tercela dan dijatuhi hukuman Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH). Akan tetapi, Afifat diberikan kesempatan untuk banding (Source: Detik.com).

[Baca: Liburan Ala Raja]

Wajah Hitam Indonesia

Ada setidaknya 3 hal mengenai sisi hitam rakyat Indonesia yang dapat diobservasi dari video ini. Walaupun Indonesia telah mengambil langkah-langkah progresif di bidang kemanusiaan, hukum, dan toleransi, dapat dibilang bahwa belakangan ini rapor Indonesia mencatat nilai merah untuk isu-isu tersebut.

1. Perhakiman Jalanan (Mob Justice)

Mob Justice adalah frasa yang biasa digunakan untuk menggambarkan kejadian di mana warga membawa perhakiman ke jalanan, tanpa melewati proses formal seperti seharusnya. Tidak jarang perhakiman ini diwarnai dengan emosi yang meledak-ledak dan kekerasan.

Sayangnya, mob justice bukanlah hal yang jarang di Indonesia. Pencarian simpel menggunakan google dapat menunjukkan ratusan kasus seperti ini yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia. Contohnya saja seperti kasus seorang pencuri sepeda motor yang nyawanya melayang karena ketokan palu hukum warga setempat di Lubuk Pakam pada bulan Februari lalu (Source: TribunNews.com).

Pencarian serupa juga dapat dengan mudah dilakukan menggunakan youtube, sama seperti kasus yang dibicarakan di artikel ini. Merasa terganggu dengan cuplikan-cuplikan brutal yang anda temukan? Anda juga seharusnya sangat terganggu dengan komentar-komentar netizen di video tersebut. Kita bisa menggunakan contoh video berikut yang menunjukkan begal di Bekasi yang dipukuli menggunakan selang di Bekasi

Di bagian komentar video tersebut, anda bisa melihat beberapa netizen mengusulkan untuk memenggal ataupun membakar begal yang ada di video. Mungkin komentar ini terdengar bercanda dan tidak berbahaya bagi anda. Tapi akan buruk ceritanya apabila komentar-komentar tersebut malah diberi sambutan positif. Hal ini berpotensi menggerus sensitivitas seseorang terhadap kekerasan. Anda bisa membayangkan bila komentar ini diucapkan secara verbal di tempat dan waktu kejadian. Dengan emosi yang meluap-luap, bukan tidak mungkin begal tersebut dapat dibakar hidup-hidup oleh warga seperti diprediksi oleh Psikologi Sosial mengenai mob mentality. Cabang Psikologi Sosial menjelaskan bagaimana kekerasan kerap terjadi ketika emosi suatu grup memuncak karena suatu pemicu (bisa dalam bentuk aksi maupun verbal) dan sisi individual dan responsibilitas seseorang berkurang (deindividuation) dalam konteks grup (Source: South University).

 

Beberapa komentar video YouTube diatas

Anehnya, beberapa orang gagal memahami bagaimana dengan melakukan kekerasan ataupun merebut nyawa orang lain, maka para hakim jalanan ini bisa dibilang lebih buruk kelakuannya dari si korban perhakiman yang mungkin saja mencuri karena suatu keterpaksaan.

Sama seperti kasus pengendara mobil di Purbalingga ini. Orang-orang sepertinya menutup sensitivitasnya dan tidak berusaha untuk mengerti apa yang terjadi dengan Waskito yang berperilaku aneh sebelum kejadian. Lebih menyedihkan lagi, terdengar seseorang memanas-manasi kejadian dengan tuduhan bahwa Waskito memegang besi walaupun sama sekali tidak terbukti tuduhan tersebut di dalam video. Melihat gerak-geriknya, tidak tertutup kemungkinan bahwa Waskito mengalami tekanan batin ataupun mental yang dapat menjelaskan perilakunya. Apalagi, bagaimanapun juga Indonesia adalah Negara hukum yang menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah.

[Baca: Jokowi: Liberalis, Komunis, Kapitalis, Zionis, Aseng dan… Ranger Merah?]

2. Si Aparat Hukum vs Rakyat Sipil

Tentunya penulis tidak mengatakan bahwa Waskito sama sekali tidak bersalah pada kasus ini. Bila laporan dari Humas Polri benar, maka Waskito telah benar melawan aparat hukum dan membahayakan warga sekitar dan patut untuk menerima hukuman setelah dia diadili dengan diwakili pengacara.

Yang menjadi sorotan di sini adalah dinamika antara seorang penegak hukum dan rakyat sipil yang seharusnya memiliki rasa respek yang mutual. Tapi yang terjadi adalah Waskito malah memprovokasi Afifat yang seharusnya dihormatinya. Di sisi lain, Afifat sepertinya melupakan tugas lainnya sebagai pelindung rakyat sipil dan malah menganiaya Waskito.

Nyatanya, sosok seorang polisi di Indonesia masih sering diberikan predikat negatif oleh publik. Pasti anda familiar dengan perasaan takut terhadap polisi. Mulai dari takut dirazia, takut ditilang, hingga takut dipalaki oleh oknum-oknum nakal di dalam kepolisian.

Fenomena ini menunjukkan suatu ketidak percayaan rakyat pada aparat penegak hukum negerinya sendiri. Ketika rasa percaya itu hilang, polisi yang seharusnya menjadi pelayan dan teman rakyat malah akan dianggap sebagai musuh. Hal ini juga dapat memperkuat kemungkinan terjadinya perhakiman jalanan. Di saat warga merasa kepolisian tidak dapat menjadi penegak hukum yang baik, maka warga akan membawa hukum ke jalanan.

Jelas ini adalah sinyal bagi kepolisian Indonesia untuk berbenah diri dan memperbaiki imejnya di mata publik. Tentu tidak mudah untuk merubah pandangan publik yang sudah tertanam sejak lama ini. Akan tetapi, keputusan kepolisian untuk memberhentikan Afifat adalah sebuah langkah yang tepat untuk menyelamatkan muka kepolisian RI.

3. Lagi-Lagi SARA dan Xenofobia

Sudah bosan rasanya mendengar berbagai kasus SARA mencorat-coret  panggung media Indonesia. Sayangnya, sekali lagi isu yang seharusnya sudah berhenti muncul sejak puluhan tahun lalu ini kerap muncul di keseharian kita.

Melihat kasus SARA belakangan, penulis menjadi bertanya-tanya, apakah mungkin profil rasial dari Waskito yang menyebabkan kejadian ini meledak melewati proporsi seharusnya? Ataukah ini juga manifestasi perasaan si miskin vs kaya yang mendapatkan platform untuk terlepaskan?

Pertanyaan “Kristen ya? Kristen ya?” yang tertangkap di video juga menjadi pertanyaan besar yang mengganggu dan menggelitik nurani penulis. Mengapa pertanyaan ini terlontar oleh si pengucap? Apa signifikansi agama dalam kejadian ini sehingga pertanyaan ini harus muncul? Lalu, apakah yang menjadi pandangan si penanya mengenai agama tersebut sehingga dia harus dengan spesifik menyebut agama tersebut?

Bila kita memperhatikan pertanyaan “Kristen ya? Kristen ya?” dengan konteks kejadian, maka kita bisa menarik sebuah hipotesis bahwa si penanya memiliki paling tidak suatu pandangan negatif mengenai agama tersebut. Sepertinya si pengucap memiliki pandangan bahwa agama ini entah bagaimana memperbolehkan kelakuan Waskito. Sebagai konfirmasi, penulis yang memiliki beberapa teman baik yang beragama Kristen mengerti bahwa ajaran dan doktrin Kristen sifatnya adalah lembut dan sama sekali tidak mendukung tumbuhnya kelakuan Waskito ini.

Pertanyaan ini bisa dibilang adalah suatu bentuk gamblang dari xenofobia (rasa takut atau benci akan hal yang sifatnya berbeda atau asing dari diri sendiri) di Indonesia, baik itu terselubung ataupun tidak. Mungkin anda sering diberi tahu oleh orang tua anda untuk tidak memilih-milih dalam berteman. Tapi dengan anehnya, orangtua yang sama juga bisa kemudian mengatakan “Eh jangan sering-sering main sama si X, soalnya dia Kristen, nanti kamu jadi suka minum.”, atau “… Si Y, soalnya dia Cina, nanti kamu mikirnya duit mulu, lupa akhirat”, ataupun. “… si Z, soalnya dia pribumi, nanti kamu ikutan males.”. Mungkin anda tidak sadar, tetapi kejadian-kejadian dan label-label ini sering terselip dalam aktivitas keseharian kita dan membentuk persepsi kita akan suatu kelompok masyarakat.

Mau tahu cara terbaik untuk mengatasi masalah ini? Keluarlah dari zona nyaman anda, berinteraksilah  dan bertemanlah dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Ketika anda berhasil melakukan itu, anda akan sadar bahwa ternyata kita tidaklah begitu berbeda.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.