Indonesia Darurat Berpikir Kritis

“Ya karena memang begitu!”, “Memang sudah dari dulu begitu”, “Bawel ah jangan kebanyakan nanya”. Familiar dengan kalimat-kalimat di atas? Bila anda tumbuh besar di Indonesia, saya yakin anda setidaknya pernah mendengar kalimat-kalimat seperti ini diucapkan kepada anda. Entah bagaimana, sistem pendidikan dan masyarakat di Indonesia sukses memangkas rasa ingin tahu seorang anak semakin ia tumbuh dewasa.

Masih sangat jelas di ingatan saya bagaimana saya berdebat dengan guru pelajaran kewarganegaraan SMA saya mengenai banyak hal.

  1. “Kenapa Pancasila dianggap sebagai dasar Negara terbaik untuk Indonesia?”
  2. “Kenapa berbagai ideologi negara di buku PPKN selalu memiliki pro dan kontra, tapi hanya pancasila saja yang tidak punya kontra? Bila benar Pancasila tidak memiliki kontra, kenapa Indonesia tidak menjadi Negara terbaik di dunia?”
  3. “Kalau Pancasila dianggap paling benar karena penduduk Indonesia yang majemuk, kenapa kita tidak memakai ideologi Negara Amerika Serikat yang juga sangat majemuk?”
  4. “Kenapa agama yang diakui di Indonesia hanya 5 saja? Apakah orang yang menganut agama selain itu bukan rakyat Indonesia? Bukankah Indonesia sendiri awalnya memiliki banyak agama dengan keragaman suku dan budayanya?”

Hasilnya? Bukan diskusi yang didapat, tetapi malah muka tidak enak dan sindiran yang saya dapatkan. Oh, tidak lupa juga dibumbui dengan kalimat-kalimat di awal artikel ini.

Ruang kelas seharusnya menjadi tempat berdiskusi yang kondusif

Saya yakin setelah ini akan ada orang yang menuduh penulis sebagai komunis, antek asing, zionis, dan lain sebagainya. Akan tetapi saya ingin menegaskan bahwa saya adalah pendukung Pancasila dan demokrasi.

Menghafal vs Pembelajaran

Walaupun kesimpulan yang saya dapatkan akhirnya tetap itu juga, yang menjadi perbedaan adalah bagaimana saya tiba pada konklusi tersebut. Ketika seseorang bulat-bulat memakan apapun yang diberitahukan kepadanya sebagai fakta, maka proses tersebut tidaklah lebih dari sekedar menghafal saja.

Di sisi lain, ketika anda mulai berpikir kritis dan bertanya lebih jauh mengenai satu hal, maka kepercayaan anda akan ditantang oleh si “kenapa, apa, siapa, di mana, kapan, dan bagaimana”. Sering kali proses ini tidak mengenakkan, terlebih lagi bila itu menyangkut kepercayaan yang anda pegang teguh selama ini. Akan tetapi, ketika anda sampai pada suatu jawaban melalui cara ini, maka anda bisa menggenggam jawaban itu dengan jauh lebih kuat daripada ketika anda berlindung di balik “Ya karena memang begitu”.

Yang sering dilupakan oleh banyak orang adalah bahwa proses berpikir harusnya dijalankan sebagai sebuah proses iteratif atau berulang. Yang dimaksud dengan itu adalah proses di mana ketika seseorang dihadapkan dengan suatu hal, orang tersebut seharusnya dapat merumuskan observasi awalnya dalam suatu hipotesa, mengetes hipotesanya, kemudian memperbaharui kembali hipotesanya terus hingga dia sampai pada suatu konklusi. Ketika anda memiliki ekspektasi bagi seseorang untuk dapat berbicara dengan bijak, maka hal pertama yang harus dilakukan orang tersebut adalah berpikir dengan bijak dengan menggunakan hypothesis framework (kerangka hipotesa) di atas.

Indonesia dan Berpikir Kritis

Sebuah penelitian oleh Victor Medina-Conesa menemukan bahwa 69% mahasiswa Indonesia ingin memiliki usahanya sendiri ketika lulus. Dari jumlah tersebut, 62% ingin menjadi entrepreneur di bidang teknologi. Angka ini terbilang sangat tinggi apabila dibandingkan dengan Negara-Negara di Asia Timur. Namun, kurangnya kemampuan berpikir kritis masih menjadi salah satu hambatan bagi sumber daya manusia Indonesia (Source: Tech in Asia).

Yang lebih mengenaskan, bila kita merujuk pada hasil tes PISA (Programme for International Student Assessment) yang digunakan untuk memantau kemampuan murid berumur 15 tahun untuk mengekstrapolasi apa yang sudah dipelajarinya dalam konteks dalam dan luar sekolah, maka ada kabar buruk yang harus siap kita hadapi (Source: OECD). Di bidang sains, lebih dari 50% murid dikategorikan pada tingkat 1 atau di bawahnya dari total 6 tingkatan. Ini berarti bahwa lebih dari setengah anak berumur 15 tahun di Indonesia tidak dapat menarik kesimpulan dari kumpulan data yang simpel menggunakan pengetahuan umum dasar. Sedangkan di bidang matematika, 2/3 dianggap tidak dapat mengambil inti sari dari satu sumber dan membuat interpretasi literal dari hasil tersebut. Terakhir dan yang paling memperihatinkan, dari sisi membaca, 55% tidak dapat mengenali ide utama dari suatu bacaan, memahami tautan dan kaitan, ataupun menafsirkan arti dari suatu bacaan apabila arti tersebut tidak menonjol. Artinya? Lebih dari setengah murid-murid 15 tahun di Indonesia tidak memiliki kemampuan dasar untuk dapat berpikir kritis.

Refleksi Kejadian di Indonesia

Bukan hanya kemampuan berpikir kritis diperlukan dalam dunia kerja, kemampuan ini juga menjadi sangat penting dalam menciptakan suatu masyarakat yang stabil, aman, dan progresif.  Kejadian baru-baru ini sangat cocok untuk menggambarkan kemampuan berpikir kritis rakyat Indonesia saat ini.
Sebuah video yang belakangan viral di media Indonesia menunjukkan serombongan anak-anak yang berpiawai menyambut datangnya bulan Ramadhan beramai-ramai menyanyikan “Bunuh Ahok! Bunuh Ahok sekarang juga!” (Source: CNN Indonesia).

Ada 2 hal yang menjadi perhatian utama dari kejadian ini:

1. Mari kita tidak mendiskusikan apakah Ahok bersalah atau tidak dalam kasusnya kemarin. Yang perlu menjadi sorotan adalah dari mana lagi anak-anak ini belajar kata-kata tidak baik tersebut apabila bukan dari orang dewasa di sekitarnya. Artinya, masih cukup banyak orang dewasa yang tidak memiliki kesusilaan dan kesadaran diri untuk dapat menjaga perkataannya di depan anak-anak yang masih dalam masa perkembangan. Ketika seseorang mengucapkan kata “bunuh” dengan gampangnya, secara tidak langsung orang tersebut menurunkan rasa peka dirinya dan orang di sekitarnya terhadap kekerasan. Bukankah dengan begitu orang-orang tersebut malah menentang ajaran agamanya sendiri yang menjunjung perdamaian?

2. Ketika anak-anak di dalam video menyanyikan yell yell tadi, Sayangnya, mereka gagal untuk menarik paralel bahwa perbuatan yang mereka lakukan dapat juga diargumentasikan sebagai bentuk penistaan agama. Alasannya, tindakan yang mereka lakukan malah menyebarkan image yang bertolak belakang dengan nilai-nilai dari bulan suci Ramadhan yang merupakan bulan pembersihan diri dan saling memaafkan. Bukan saja anak-anak ini gagal memahami hal tersebut, orang tua dan gurunya juga berarti telah gagal menanamkan cara berpikir seperti ini kepada anak-anak tersebut.

Contoh terakhir adalah tulisan Afi Nihaya mengenai agama sebagai sebuah “warisan” (Source: IDN Times). Alih-alih dipakai sebagai bahan berpikir dan refleksi, ribuan orang malah menuduh Afi sesat dan lain sebagainya. Menjadi hal yang sangat menarik ketika kita melihat orang-orang begitu terganggu ketika diajak sedikit berpikir lebih jauh tentang jati dirinya. Toh seharusnya bila orang-orang tersebut memiliki keyakinan penuh akan kepercayaannya, seharusnya orang tersebut tidak takut untuk menyelam lebih jauh ke refleksi-refleksi lebih mendasar seperti yang dipaparkan oleh Afi. Mereka juga gagal melihat bahwa Afi yang menulis tulisan tersebut adalah seorang muslimah taat yang juga terkadang menulis uraian tentang ajaran Islam. Pikiran-pikiran Afi tidak membuatnya meninggalkan agamanya, dan Afi malah terlihat lebih teguh memegang keislamannya ketika dia menguraikan bahwa Islam adalah agama yang lembut.

Cuplikan tulisan Afi

Akhir kata, marilah kita menjadi lebih bijak dalam berpikir. Jadilah orang yang selalu memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Cintailah rasa yang muncul ketika kepercayaan dasar kita diuji. Dan akhirnya, jangan takut untuk berpikir.

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.