Jokowi: Liberalis, Komunis, Kapitalis, Zionis, Aseng dan… Ranger Merah?

Artikel ini dibuat karena rasa heran penulis setelah melihat jurang, dan lembah hitam internet, di mana perdebatan hangat hingga perdebatan sepanas api neraka kerap terjadi. Entah kenapa sepertinya ada fenomena di mana para netizen atau pengguna internet berkeinginan untuk menggunakan jargon-jargon agar argumennya terdengar lebih pintar dan kuat. Sayangnya, alih-alih membuat argumen sang penulis terlihat lebih kokoh, yang sering terjadi adalah sang penulis terkesan asbut (asal sebut). Mungkin kalau diumpamakan itu seperti orang datang melayat ke sebuah pemakaman, tapi yang bersangkutan malah membawa spanduk bertuliskan “Selamat menempuh hidup baru!” seraya menebar bunga.

Hipotesis 1: Terburu-Buru

Hipotesa pertama penulis adalah kebanyakan pengguna internet di Indonesia sangat bersemangat ketika mendengar suatu kata yang terdengar baru di telinganya. Seperti anak yang baru saja dibelikan Kartu Uno orang tuanya, sang anak ingin cepat-cepat memainkannya tanpa membaca instruksi bagaimana cara memainkan permainan tersebut dengan benar, padahal instruksi tersebut sangat penting. Alhasil si anak malah memainkan kartu tersebut dengan cara dicas, di mana dua orang akan memegang masing-masing 1 kartu di tangan, saling menepukkan (cas) kartu tersebut keras-keras, dan yang menang adalah yang kartunya menghadap ke atas setelah kartu tersebut jatuh ketika dicas. Sungguh menyedihkan…

Source: AppPlusGame

Hipotesis 2: Xenofobia, Bias Konfirmasi & Kurang/Malas Berpikir Kritis

Gabungan dari ketiga hal ini yang biasanya menjadi minuman favorit para netizen. Bisa dibilang ketiga hal ini seperti kopi, gula, dan creamernya para netizen dari lembah gelap internet. Cara membuatnya juga bisa dibilang sangat gampang, cukup sediakan secangkir penuh xenofobia, dua sendok bias konfirmasi (Kalau kurang manis bisa ditambah), dan satu sachet kurang-berpikir-kritis (resep ketiga ini juga bisa diganti jadi sesachet malas-berpikir-kritis juga), aduk semuanya selama 30 detik, dan nikmati sampai habis. Sebelum para pembaca kebingungan dengan jargon-jargon di atas, penulis akan menjelaskan arti dari ketiga jargon ini sebelum penulis melanjutkan hipotesanya.

Xenofobia: Kata Xenofobia sendiri berasal dari gabungan dua kata, xeno yang berarti luar, dan fobia yang berarti ketakutan yang ekstrim atau tidak rasional terhadap sesuatu. Walaupun sering digunakan untuk menjelaskan ketakutan terhadap ras ataupun Negara lain, kata ini juga dapat digunakan untuk menjelaskan ketakutan yang disebabkan oleh hal atau pandangan yang bersebrangan atau asing dengan kebiasaan, pandangan, ataupun norma-norma yang dianut seseorang. Tidak jarang fobia ini menimbulkan rasa benci yang mendalam juga.

Bias Konfirmasi: Kecenderungan di mana seseorang hanya akan terus mencari bukti-bukti yang akan mendukung paham ataupun asumsi yang dia anut, dan mengabaikan bukti-bukti yang dapat membantah asumsi ataupun paham yang dipercayainya.

Berpikir Kritis: Berpikir kritis sendiri dapat didefinisikan sebagai proses analisa dan evaluasi yang objektif terhadap suatu isu guna mencari keputusan terbaik.

Kopi, krimer, dan gula

Sekarang, mari kita melakukan reka kejadian yang biasa dilakukan oleh netizen dari lembah gelap internet.

Langkah 1: Browsing Facebook atau Twitter sambil gabut (gaji buta) di kantor.

Langkah 2: Melihat berita menggemparkan yang kebenarannya dipertanyakan di timeline, contoh: Jokowi Adalah Antek Liberal Zionis. Karena sering mendengar kata liberal dan zionis disangkut pautkan dengan hal negatif, maka sang netizen dari lembah gelap internet langsung tersulut emosinya. Di langkah kedua ini, secangkir kopi xenofobia sudah siap tersedia.

[Baca: Rangkuman: Belenggu Freeport di Papua]

Langkah 3: Merasa kopinya masih pahit, maka sang netizen memutuskan untuk menambahi kopinya dengan gula bias konfirmasi. “Tentunya logis dong kalau gua google Jokowi Liberal. Kan kalau palsu ga mungkin keluar di google”, pikir si netizen dengan naifnya. Lantas keluarlah satu halaman pencarian google yang sumbernya sangat mencurigakan seperti v*ai*sl*m, p*spi*ung*n dan blog-blog semacamnya. Walaupun muncul satu hasil pencarian pahit yang membantah dugaan ini, si netizen mengabaikannya dan menambahkan 5 sendok bias konfirmasi yang manis untuk menutupi rasa pahit dari pembantahan tersebut.

Langkah 4: netizen siap menjadi kesatria keyboard dan mulai mengetik status FB penuh emosi menyalahkan Jokowi yang dianggapnya Zionis dan Liberal. Sembari menulis, sang netizen teringat percakapan kemarin malam dengan seorang teman tentang bagaimana Jokowi memberikan Tax Amnesty yang penerimanya kebetulan kebanyakan berketurunan Tionghoa, karena saudara-saudara kita ini dominan sebagai pemutar roda ekonomi. Langsung saja si netizen dengan pintarnya menyambungkan bahwa “Tionghoa=Negara Cina= Komunis”. Tanpa ragu-ragu netizen merangkai kata yang menyebut bahwa Jokowi adalah seorang Liberal, Zionis, Komunis di satu kalimat yang sama tanpa mengerti betapa aneh dan absurd-nya pernyataan tersebut karena kontradiksi yang ditimbulkan kejauhan filosofi dari Liberalisme dan Komunisme. Akan tetapi, creamer kurang-berpikir-kritis ini terbukti rasanya enak sekali, buktinya pos si netizen mendapatkan lebih dari 100 likes, dan 15 shares.

Dengan hasil manis ini, tentu saja sang netizen merasakan enaknya menjadi sorotan di sosial media (100 likes gitu loh!). Sang netizen-pun bersiap untuk meracik kopi manis berikutnya untuk dibagikan di sosial media.

Source: Twitter

Hipotesis 3: Ketagihan Cocoklogi

Penulis berpikir mungkin juga netizen dari lembah gelap internet ini sebenarnya memiliki masa kecil yang kurang bahagia. Buktinya saja mereka suka main dokter-dokteran. Bedanya, kalau seorang dokter memeriksa suatu penyakit berdasarkan simtom atau gejala-gejala yang ditunjukkan pasien, maka si netizen dari lembah gelap internet ini akan mengambil sebuah konklusi akan suatu isu dari tanda-tanda yang sebenarnya… bukan tanda sama sekali. Bahasa keren dari fenomena ini adalah cocoklogi.

Ambil sebagai contoh Jokowi yang mengadakan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat tahun 2015 lalu. Para netizen dari lembah gelap internet dengan cepat menuduh bahwa Jokowi adalah seorang liberal kapitalis. Walaupun pada saat itu beliau membicarakan permasalahan perjanjian TPP yang mungkin dapat diartikan beberapa orang sebagai langkah liberal dan kapitalis, lalu apa yang terjadi ketika Jokowi melakukan kunjungan ke Cina pada 2016? Tentu saja sekali lagi para netizen ini mengatakan bahwa Jokowi adalah antek aseng dan Komunis.

[Baca: Rangkuman: Dibom Nuklir Antasari, SBY Menyalahkan Jokowi]

Fenomena di atas kemudian membuat penulis berpikir. Sungguh hebat Jokowi yang entah bagaimana bisa menjadi penganut dan supporter dari hal-hal yang begitu berjauhan sifatnya. Mungkin bila benar adanya, beliau adalah manusia super yang merupakan simbol multikulturalisme, multirasial, dan multi-lain-lainnya.

Jelas kemampuan berpikir kritis menjadi suatu  hal penting yang masih absen di kebanyakan masyarakat Indonesia. Perlu adanya perbaikan dari sisi edukasi Indonesia terutama, di mana hal yang lebih diutamakan adalah kemampuan untuk menghafal tanpa mengerti proses pembuatan hipotesis berpikir dari suatu masalah dan bagaimana melakukan tes dan pembaharuan dari hipotesis tersebut. Bila ini tidak diperbaiki, bisa jadi ada yang percaya bila penulis mengatakan Jokowi adalah Ranger Merah. Kok bisa? Soalnya beliau Presiden Indonesia, Ranger Merah juga pemimpin Ranger yang lain. Lalu, Indonesia benderanya merah-putih, kostumnya Ranger Merah juga merah-putih. Absurd

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.