Liburan Ala Raja

Kunjungan raja Salman ke Indonesia kerap menjadi pembicaraan media dan rakyat Indonesia belakangan ini. Bagaimana tidak, kunjungan ini merupakan kunjungan pertama raja Saudi setelah kurang lebih 47 tahun lamanya. Tentunya perhatian publik ini didapat bukan hanya karena kunjungan penting ini berpotensi menghasilkan aliran dana sebesar 25 milyar dolar bagi Indonesia tetapi juga karena persiapan bombastis yang yang harus dilakukan untuk berbagai pihak untuk menyukseskan kunjungan ini.

Kedatangan Raja Salman di Halim Perdana Kusuma disambut oleh Jokowi (Source: JakPost)

Mari kita lihat bagaimana liburan ala raja yang dimulai tepat pada hari artikel ini turun, yaitu 4 Maret 2017.

Transportasi

Sebagai seorang rakyat jelata, penulis pasti akan bersujud sukur dan mengambil ratusan selfie apabila tiket pesawatnya mendapat upgrade menjadi kelas business atau first class. Tentunya ini berbeda dengan seorang raja yang bukan hanya ingin terbang di satu tempat duduk yang nyaman saja. Raja salman menggunakan setidaknya 8 pesawat untuk melancarkan kunjungannya ke Indonesia. Mereka adalah 2 unit pesawat Boeing B777, 4 unit pesawat Boeing 747 seri 400 dan 200, serta 2 unit pesawat c-130 Hercules yang digunakan khusus untuk membawa kargo. Bila harga Boeing 747-400 yang digunakan oleh raja Salman dibandrol pada harga US$ 230-270 juta (Source: Kumparan.com)  atau sekitar Rp 3-3,5 triliun, anda bisa mengira-ngira sebanyak apa uang yang digelontorkan kerajaan untuk fasilitas sang raja.

Kiri: Salah satu dari delapan pesawat yang dipakai Raja Salman (Source: detik.com); Kanan: Tangga eskalator pesawat yang dibuat khusus untuk Raja Salman (Source: Majalah Angkasa)

Bagasi

Anda tidak salah baca sebelumnya. Raja Salman benar menggunakan 2 pesawat yang khusus digunakan untuk membawa bagasinya dan rombongan. Berat total dari bagasi ini mencapai angka fantastis yaitu 497 ton. Bila anda tidak bisa membayangkan seberat apa 497 ton itu, berat ini hampir setara dengan berat 82 gajah Sumatera dewasa yang rata-rata beratnya 6 ton (Source: Tribun News).

Ukuran pesawat kargo Raja Salman (Source: Majalah Angkasa)

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, “Apa saja sih yang dibawa sang raja hingga bawaannya mencapai 12.425 kali maksimal berat bagasi maksimal (40 kg) dari penerbangan konvensional ?”.

Ternyata raja Salman membawa sendiri kendaraannya selama beliau di Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, raja Salman menerbangkan 4 mobil Mercy S600 yang dikatakan anti peluru dan senjata langsung dari Saudi. Menambah berat bagasinya juga 2 buah elevator dengan ukiran emas yang digunakan saat raja Salman turun dari pesawatnya. Selain itu, rombongan juga membawa peralatan kerja, furnitur, makanan, minuman, mesin x-ray, TV 80 inci, dan sofa (singgasana) kesayangan raja Salman yang bernilai US$ 1.271.979 atau sekitar Rp 17 milyar (Source: The Jakarta Post). Sofa ini dikabarkan juga dibawa raja Salman pada waktu liburannya di Prancis pada tahun 2015.

Mobil S600 yang merupakan salah satu kargo yang diterbangkan untuk perjalanan Raja Salman ke Indoneia (Source: IDN Times)

Hotel

Tidak main-main, rombongan raja Salman menyewa 5 hotel berbintang 5 di Bali, yaitu hotel St Regis, Laguna, Hilton, JW Marriot, dan The Westin. Bila ditotal-total, rombongan raja Saudi ini sudah memblok setidaknya 1118 kamar. Angka ini belum termasuk jumlah kamar yang diblok dari hotel JW Marriot (Source: Tribun News).

Fasilitas yang didapat juga cukup fantastis, di mana hotel-hotel tersebut mencakup villa pribadi, pantai pasir putih pribadi di Nusa Dua, spa, kebun buatan, dan banyak lagi. Raja Salman juga dikabarkan membawa peralatan medisnya sendiri yang diletakkan di kamarnya.

Hotel St. Regis, lokasi penginapan Raja Salman di Bali

Pesan

Pemilihan lokasi liburan raja Salman di Bali juga dapat dilihat sebagai sebuah pesan bagi Indonesia dan dunia. Pastinya masih melekat di ingatan banyak orang ketakutan dan kepanikan yang ditimbulkan pada kejadian bom Bali di tahun 2002 dan 2005. Tragedi yang merenggut setidaknya 225 nyawa dari berbagai nasionalitas ini telah meninggalkan luka yang dalam bagi imej Bali di mata dunia.

Pelaku teror yang berafiliasi dengan grup teroris Jemaah Islamiyah yang memiliki hubungan dengan grup teroris internasional Al-Qaeda ini juga telah mencakar wajah penganut agama Islam. Tak jarang agama tersebut kemudian disangkut pautkan dengan kekerasan dan ekstremisme.

Kunjungan dari seorang pemimpin Negara Islam ke daerah wisata yang dikatakan para teroris sebagai tempat berkumpulnya orang “kafir” ini dapat dianggap sebagai sebuah statement yang kuat. Bahwa Islam tidak sama artinya dengan ekstremisme.

Inferensi ini juga sepertinya tidak terlalu jauh bila kita melihat bagaimana raja Salman sempat berkomentar bahwa beliau memilih Bali karena orang-orangnya yang toleran. Beliau juga sempat menyerukan kepada Indonesia pada saat pertemuannya dengan 28 tokoh lintas agama untuk menjaga toleransi beragama dan kemajemukan di Indonesia (Source: CNN Indonesia).

Raja Salman juga menghimbau untuk menjaga toleransi beragama di Indonesia (Source: The Jakarta Post)

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.