Memberantas Terorisme Bukan Dengan Anggaran!

Beberapa pekan terakhir, publik kita dikejutkan dengan beberapa rentetan teror. Mulai dari kerusuhan napi teroris di Mako Brimob, hingga ledakan bom bunuh diri di tiga Gereja (Gereja Santa Maria, GKI Jalan Diponegoro, dan GPPS, Jalan Arjuna Surabaya) (Source: detik.com). Bukan hanya itu, sehari setelah kejadian tragis tersebut, terjadi sebuah bom susulan di Polrestabes Surabaya (Source: Kompas). Rentetan kejadian ini sungguh merupakan kejahatan yang mengoyak-ngoyak kemanusiaan kita dan mencederai semangat kedamaian kita.

bom_meledak_polrestabes_surabaya
Bom meledak di Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, Senin (14 Mei 2018) pagi (Source: Kompas)

Sebagai tanggapan terhadap kejadian ini, sebagaimana dirilis oleh detik.com, Polri meminta tambahan anggaran untuk penanganan terorisme (Source: detik.com). Di sini sejujurnya saya merasa bingung dengan logika yang dipakai oleh pihak kepolisian. “Menangani terorisme kok dengan anggaran?”

Mungkin dengan anggaran yang memadai, pihak kepolisian akan mampu membeli persenjataan, peralatan, dan perlengkapan yang lebih canggih. Sekejap ia akan mampu mendeteksi keberadaan teroris dan melumpuhkannya, bisa melumpuhkan bom bunuh diri, dan juga bom-bom lainnya. Tapi perlu diingat, ia tidak akan mampu menghentikan dan membunuh ideologi terorisme yang menjadi pangkal dan dasar gerakan terorisme itu tumbuh subur nan masif.

Kepala Polri Jenderal Polisi Tito Karnavian
Kepala Polri Jenderal Polisi Tito Karnavian memastikan pihaknya bekerja secara cepat guna memberikan keamanan pada masyarakat (Source: CNN Indonesia)

Berapapun jumlah teroris yang tertangkap dan terbunuh, terorisme akan tetap tumbuh subur, jika persoalan mendasar yang melatarbelakanginya, yaitu ideologi terorisme, luput dari amatan. Mati satu akan tumbuh seribu teroris. Para teroris itu tidak akan pernah gentar menghadapi densus 88 yang dilengkapi persenjataan serba canggih dan paling mutakhir, karena mereka sudah yakin, bahwa apa yang dilakukannya merupakan sebuah kebenaran, dan itu harus diperjuangkan.

Maka jihad dalam perspektif mereka, mutlak harus dilakukan, demi memperjuangkan kebenaran yang mereka yakini. Sehingga mereka berani dan rela meski nyawa (baca: bom bunuh diri) adalah taruhannya. Bagi mereka, nyawa tiada berharga daripada memperjuangkan kebenaran yang mereka yakini.

Jadi, percuma kepolisian kita menumpuk persenjataan canggih, jika ideologi terorisme terus bebas bereksistensi dan tumbuh subur di negeri ini. Jika kita pikir-pikir, bukankah persenjataan anti teror kita selama ini jauh lebih canggih daripada persenjataan para teroris itu selama ini? Jadi, buat apa meminta tambahan anggaran untuk melawan terorisme. Bukankah dengan persenjataan yang dimiliki sekarang sudah lebih dari cukup untuk memerangi terorisme secara fisik?

Jadi, jika memang kita serius ingin memerangi terorisme, mari kita kaji apa yang melatarbelakanginya dari hulu ke hilir. Kenali motif dan ideologinya. Kemudian kita cari solusinya bersama-sama, yaitu tentunya sebuah solusi yang bersifat jangka panjang bukan jangka pendek.

Dari beberapa kasus teror dengan berbagai bentuknya yang terjadi selama ini, motif utama serangan terorisme itu adalah ideologi. Yaitu ideologi truth claim, yang menganggap ideologi dan kelompok di luar dirinya salah dan hanya dirinyalah yang benar, sehingga melahirkan suatu keyakinan sesat, bahwa darah mereka, yang berpandangan berbeda sebagai  halal.

Bertolak dari ideologi yang menjadi motif utama gerakan terorisme, maka yang perlu kita lakukan adalah memerangi ideologi truth claim tersebut. Tentu memeranginya bukan dengan persenjataan yang lengkap nan canggih, tetapi ideologi harus juga diperangi dengan ideologi.

Kita harus mampu menawarkan ideologi yang damai dan santun dan menghargai setiap perbedaan yang ada, sebagaimana diajarkan oleh setiap agama yang kita anut di Indonesia. Sebagaimana kita mafhum, tidak satu pun agama di Indonesia yang mengajarkan, apalagi menganjurkan para pemeluknya untuk berlaku kasar, apalagi sampai membunuh sesamanya. Tidak ada.

Setiap agama mempunyai ajaran yang luhur, yang menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan. Nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan inilah yang menjadi titik temu atau kalimatun sawa dari tiap-tiap agama.

Jadi apabila ada seorang atau sekelompok orang melakukan aksi teror, atas nama apapun, bahkan agama sekalipun, maka itu merupakan bentuk pengkhianatan dan kekafiran terhadap agama yang dianutnya. Setiap agama sangat mengutuk aksi-aksi terorisme, apapun bentuknya, termasuk aksi-aksi yang diatasnamakan untuk membela agama itu sendiri. Karena tindakan itu bertolak punggung dari semangat keberagamaan kita.

Kalau boleh, saya ingin memberikan saran untuk Polri. Sebaiknya Polri tidak usah meminta tambahan anggaran untuk memerangi terorisme, melainkan cukup memaksimalkan persenjataan yang ada saja. Baiknya, Polri bersama-sama dan bergandengan tangan dengan para tokoh, baik tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh lainnya, untuk turun ke tengah-tengah masyarakat di tataran akar rumput dalam rangka menyebarkan ideologi yang santun nan damai. Sebagaimana saya katakan di atas, bahwa pangkal dari persoalan terorisame di negeri ini adalah ideologi. Jadi ideologi (baca: terorisme) harus dilawan dengan ideologi (baca: damai), bukan dengan anggaran dan senjata.

Dan jujur, saya sendiri belum menemukan satupun negara yang menggunakan pendekatan persuasif dan lebih halus untuk mengurangi proliferasi terorisme. Jika tidak bisa dikatakan semuanya, maka saya katakan, bahwa mayoritas negara-negara menggunakan persenjataan (baca: perang) dalam memberantas terorisme. Seperti yang terjadi di negara-negara timur tengah. Salah satunya, Irak, Suriah dan beberapa negara lainnya. Terbukti, pendekatan semacam itu tidak berhasil mengurangi, apalagi menghentikan, gerakan-gerakan terorisme di sana.

Maka tidak ada salahnya, jika Indonesia, sebagai negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan, mencoba menggunakan pendekatan persuasif dan lebih halus dalam mencegah dan memberantas terorisme. Jika cara ini membuahkan hasil, yaitu mampu mengurangi proliferasi terorisme, maka Indonesia akan menjadi negara percontohan nomor wahid bagi negara-negara yang lain dalam mencegah dan memberantas terorisme.