PKI Sang Momok Abadi

Tampaknya momok isu PKI dan komunisme tak pernah benar-benar lepas dari benak masyarakat Indonesia. Tak susah untuk mengambil perhatian kebanyakan masyarakat ramai di Indonesia. Cukup dengan membawa kata PKI dan komunisme, maka dengan ajaib terjawablah seluruh sumber kejahatan di muka bumi ini bagi orang-orang tersebut. Sayangnya, tak sedikit dari orang-orang yang kebakaran jenggot ini yang sebenarnya tidak mengerti dengan benar apa sih sebenarnya PKI dan Komunisme. Yang mereka tahu hanyalah PKI dan Komunisme adalah hal yang jahat dan tabu, sehingga tak jarang orang-orang tersebut dapat dimanipulasi dengan isu PKI dan Komunisme oleh orang-orang yang memiliki kepentingan lain.
Layaknya durian, isu PKI ini selalu ada sepanjang tahun, tapi ada musim di mana isu ini makin banyak keberadaannya. September adalah musim subur bagi isu PKI dan komunisme di mana banyak rakyat Indonesia mengenang kisah suram G 30S/PKI yang terjadi pada 30 September tahun 1965 (Source: trends.google.co.id).

Talkshow Perspektif Indonesia Membahas Pro-Kontra Nobar Film Pengkhianatan G30S PKI dengan Jajang C Noer (Source: Kompas)

September, Musimnya Isu

Serupa juga dengan tahun ini, publik Indonesia kembali diramaikan dengan isu kebangkitan PKI di bulan September. Hal ini diawali dengan terjadinya  kerusuhan yang berlangsung di sekitaran kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Massa yang mengepung kantor YLBHI ini ternyata adalah korban berita palsu yang menuduh YLBHI mengadakan sebuah acara yang mendukung gerakan PKI di mana mereka menyanyikan lagu genjer-genjer, sebuah lagu Jawa yang sering diidentikkan dengan gerakan PKI di tahun 1965. YLBHI sendiri mengaku bahwa mereka turut serta dalam membantu korban-korban yang terstigmatisasi oleh label PKI walaupun mereka sendiri tidak memiliki afiliasi terhadapnya (Source: The Jakarta Post).

Tak berhenti di sana, pro-kontra terhadap isu PKI semakin mencuat ketika Panglima Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengumandangkan wacana untuk nobar (nonton bareng) film Pengkhianatan G30S/PKI. Mungkin anda berpikir, apa salahnya sih untuk nonton bareng sebuah film? Toh hal seperti ini terdengar sepele. Perlu diketahui bahwa film Pengkhianatan G30S/PKI ini sendiri sering disebut-sebut sebagai sebuah bahan propaganda. Jajang C Noer yang merupakan istri dari direktur pembuatan film ini, Arifin C Noer, juga tidak menampik bahwa film ini merupakan alat propaganda Soeharto dan ditujukan untuk menggiring publik untuk membenci PKI (Source: Kompas). Sekalipun PKI memang merupakan ancaman besar bagi kelangsungan Pancasila pada tahun 1960an, pemaparan sejarah yang terlalu berat sebelah dapat memburamkan pembelajaran yang bisa didapat dari episode pahit ini dan juga dapat menimbulkan kebencian berlebihan kepada orang-orang yang sebenarnya tidak berafiliasi dengan paham komunisme dan PKI. Tidak jarang muncul korban yang dituduh sebagai PKI karena pemahaman publik yang salah mengenai apa itu PKI dan Komunisme sebenarnya. Yang lebih gilanya lagi, bahkan Presiden Jokowi tidak luput dari mulut-mulut usil yang asal menyebutnya sebagai anggota PKI (Source: Tribun News).

Antusiasme Warga pada Acara Nobar Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI (1984) di Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta, Rabu, 20 September 2017 (Source: Kompas)

Gado-Gado PKI, Komunisme, Ateisme, dan… Kapitalisme (?)

Dari observasi penulis, entah kenapa sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia untuk mencampur aduk istilah-istilah “canggih” dalam berargumen. Mungkin saja ini maksudnya untuk meningkatkan kredibilitas mereka dengan menunjukkan bahwa mereka terpelajar dengan menggunakan kata-kata tersebut. Sayangnya, usaha ini malah sering berakhir dengan timbulnya pemahaman yang salah di tengah-tengah masyarakat, sehingga orang-orang yang mungkin tidak bersalah malah terkena imbasnya.

Mari kita mengambil sebuah contoh skenario di masyarakat kita. Sebut saja ada seorang wanita bernama Melati yang merupakan seorang wanita modern yang menjunjung meritokrasi (paham di mana hasil dan penghargaan yang didapatkan seseorang harus setara dengan prestasinya) dan kesetaraan gender. Lalu ada seorang wanita lain bernama Juminten yang senang bergosip. Melihat Melati yang memegang paham progresif, Juminten lalu mengatakan bahwa Melati menganut paham kebarat-baratan. Kembali memutar otak, Juminten lalu menyambung-nyambungkan bahwa bila Melati begitu kebarat-baratan, pastilah juga dia adalah seorang kapitalis dan ateis. Tak berhenti di sana, karena Juminten sering mendengar dengan samar-samar bahwa PKI itu ateis, maka Juminten menyimpulkan bahwa Melati kemungkinan besar adalah anggota PKI.

Sekarang, mari kita menelaah lebih jauh satu-satu arti dari setiap istilah “canggih” yang digunakan Juminten untuk menggambarkan Melati.

PKI: Singkatan dari Partai Komunis Indonesia. Sebuah partai di Indonesia yang didirikan di tahun 1914. Partai ini menganut paham komunisme sebagai tonggak utama paham organisasinya.

Ateisme: Sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai adanya tuhan, dewa-dewi, dan segala bentuk teisme (ketuhanan).

Komunisme: Sebuah teori organisasi sosial di mana semua properti di suatu daerah dipercayai adalah milik seluruh orang dalam komunitas tersebut. Orang-orang di dalamnya diharuskan berkontribusi dan mendapatkan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya. Biasanya, sistem ini disertai dengan perencana pusat yang bertugas mengalokasikan sumber daya ke seluruh warga.Walaupun ada beberapa bentuk komunisme yang mewajibkan ateisme kepada orang-orang yang berada di bawah paham ini, seorang komunis tidak berarti seorang ateis dan begitu juga sebaliknya. Spektrum ekonomi yang digunakan Komunisme dekat dengan sosialisme yang berseberangan dengan kapitalisme.

Kapitalisme: Sebuah sistem ekonomi di mana perdagangan, industry, dan alat-alat produksi dikendalikan oleh swasta dengan tujuan untuk menciptakan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Seperti terlihat di atas, dengan ilmu cocoklogi maut Juminten, dia telah berhasil menciptakan sebuah paradox di mana Melati adalah seorang komunis yang juga kapitalis. Tidak masuk akal sama sekali.

Aksi Unjuk Rasa Soal PKI dengan Spanduk yang Dipertanyakan (Source: BBC Indonesia)

Pentingnya Pembelajaran Isu yang Tepat

Penulis merasa bahwa kita semua dapat setuju bahwa komunisme bukanlah paham yang sejalan dengan sejatinya Indonesia. Akan tetapi, pembelajaran yang tepat mengenai isu tersebut adalah penting adanya agar tidak banyak orang yang salah kaprah.
Tentunya kita tidak mau bila negara kita terpecah karena ada saling tuduh bahwa kelompok yang lainnya adalah PKI. Sudah saatnya rakyat Indonesia menjadi lebih dewasa, mempelajari dan memproses informasi mengenai suatu informasi secara utuh, lalu mengolahnya menjadi sebuah kesimpulan yang berlandaskan tegas. Sudah bukanzamannya lagi pembelajaran harus datang dalam bentuk menyuapi. Karena ketika rakyat Indonesia dapat berpikir kritis, maka di sanalah letak majunya dan dewasanya demokrasi di Indonesia.

 

Komentar Salah Satu Pengguna Twitter Mengenai Pentingnya Pendidikan Sejarah (Source: Twitter)

 

Tentang Penulis

Aditya Aulia Wibowo

Aditya Aulia Wibowo adalah CEO & Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Aditya yang lulus dengan gelar Bachelor of Social Science in Economics (Hons) memiliki rasa ingin tahu yang besar dalam mekanisme pengambilan keputusan dari kaca mata Behavioral Economics. Aditya percaya bahwa pemahaman tertinggi terhadap suatu isu datang dalam bentuk empati, dan oleh karenanya Aditya menghargai proses diskusi terbuka.