Generasi Millennial, Si Lembek yang Berprestasi

Generasi Millennial sering diidentikkan dengan label-label negatif oleh generasi-generasi pendahulunya. Pemalas, suka bermimpi yang muluk-muluk, egois, narsis, dan kurang memiliki hormat sering menjadi tempelan bagi anak-anak muda yang lahir dari tahun 1980 ke atas ini. Dari kaca mata generasi baby boomers (lahir setelah perang dunia II, 1946-1964) dan generasi X (1965-1980), generasi muda sekarang terkesan seperti generasi gila teknologi yang manja dan hobi pamer kekayaan orang tuanya lewat Instagram, Facebook, dan lain sebagainya (Source: CNN Indonesia).

Millennial Stereotypes
Millennial Stereotypes (Source: Kulesafaul)

Akan tetapi, pandangan-pandangan seperti ini bisa dibilang kurang adil. Generasi Millennial yang juga sering dicemooh dengan istilah generasi strawberry yang berarti mudah rusak dan tidak terbiasa bekerja keras ini dapat dibilang sering disalah pahami oleh generasi pendahulunya. Generasi Millennial dapat dibilang hidup di era yang paling kompetitif sejauh ini. Dengan perkembangan internet dan terbukanya arena global, kompetisi dalam pendidikan dan pekerjaan menjadi berlipat kali lebih ketat dari sebelumnya. Memang benar generasi ini sangat terobsesi dengan teknologi dan sosial media. Akan tetapi di sisi lain, para Millennial menjadi mengerti betapa hebatnya masa muda itu dari melihat orang-orang seumurannya yang dapat membawa perubahan di masyarakat. Para Millennial yang menggunakan teknologi dengan baik mengerti bahwa terdapat banyak potensial yang dapat diraup dari gelombang sumber daya manusia muda, kreatif, dan kompetitif ini. Sebuah riset dari perusahaan Management Consultancy CEB juga menunjukkan bahwa Millennial memiliki jiwa kompetisi paling tinggi dibandingkan generasi lainnya. CEB juga menemukan bahwa generasi ini adalah generasi yang paling sering membandingkan performanya dengan rekan sebayanya (Source: The Economist).

Lalu mengapa generasi ini sering disalah pahami? Generasi-generasi pendahulu sering mengatakan bahwa generasi Millennial cepat menyerah dan tidak tahan banting. Di sisi lain, generasi ini juga didapati sebagai generasi yang paling ambisius. Paradoks ini terjawab bila kita mengerti bahwa generasi Millennial adalah gabungan dari manusia dengan rasa individualisme tinggi (Source: The Guardian). Generasi ini menaruh emphasis yang tinggi pada perkembangan dirinya, dan makna dari pekerjaan yang dilakukannya. Kebanyakan dari generasi ini percaya bahwa mereka dapat membuat perubahan yang besar untuk hal yang dia benar-benar peduli. Temuan mengejutkan juga didapati oleh survey yang dibuat oleh Net Impact di mana mereka menemukan bahwa generasi millennial rela mendapatkan gaji 15% lebih rendah asalkan mereka bekerja untuk perusahaan yang peduli dengan responsibilitas sosial (CSR), untuk pekerjaan yang memiliki impact secara sosial ataupun lingkungan, dan untuk perusahaan yang memiliki nilai-nilai yang sama dengan apa yang individual tersebut miliki.

Tak jarang ketika para Millennial ini menemukan passion ataupun sesuatu yang dia percayai, mereka akan mengerahkan usaha, kreativitas, dan network yang dia miliki untuk mencapai hasil yang diinginkannya. Mari kita melihat beberapa contoh dari Millennial tanah air yang sukses membawa perubahan dalam berbagai bidang melalui satu media yang sama, teknologi.

William Tanuwijaya, Co-Founder & CEO Tokopedia

William Tanujaya, Co-Founder dan CEO Tokopedia
William Tanujaya, Co-Founder dan CEO Tokopedia (Source: e27)

William Tanuwijaya yang lulus dari universitas Binus pada tahun 2003 ini meluncurkan Tokopedia.com pada tahun 2009 di tanggal 17 Agustus, tepat di hari kemerdekaan Indonesia (Source: LinkedIn) . Bagaikan sebuah hadiah untuk Indonesia dari pria kelahiran tahun 1981 ini, Tokopedia sudah berkembang begitu besar dan menciptakan ribuan lapangan kerja secara langsung maupun tidak langsung di Indonesia.

Tokopedia sendiri bergerak di bidang e-commerce, di mana pengguna dapat membeli dan menjualkan barangnya lewat situs dan aplikasi Tokopedia. Tokopedia telah membantu ribuan perusahaan kelas kecil dan menengah untuk dapat memasarkan barangnya dengan sangat murah. Karena sifatnya yang sangat positif dan potensinya yang begitu besar, Tokopedia sudah mendapatkan pendanaan sebesar US$ 247 juta atau sekitar Rp 3.3 triliun (Source: Tech in Asia). Dana fantastis ini didapatkan di antaranya dari Softbank yang mendanai Alibaba, dan Sequoia Capital yang mendanai Apple, Google, Instagram, dan Whatsapp (Source: Tokopedia). Sudah jelas seberapa besar potensi yang dimiliki perusahaan ini mengingat bagaimana investor kelas kakap seperti Softbank dan Sequoia Capital mau menanamkan modalnya untuk Tokopedia.

Perlu diingat, William hanya berumur 28 tahun ketika dia memulai Tokopedia.

Ferry Unardi, Co-Founder & CEO Traveloka

Ferry Unardi, Co-Founder dan CEO Traveloka
Ferry Unardi, Co-Founder dan CEO Traveloka (Source: Indosat Ooredoo)

Suka traveling? Atau pernah memesan tiket pesawat atau reservasi hotel secara online? Besar kemungkinan anda pernah menggunakan Traveloka untuk melakukan hal-hal tersebut.

Perusahaan yang bergerak di bidang travel ini didirikan oleh Ferry Unardi yang dengan sangat berani drop out dari Harvard Business School setelah hanya satu semester (Source: Tech in Asia). Ferry percaya bahwa bila tidak ada jasa yang dapat melakukan hal yang kamu perlukan, maka cara terbaik adalah membuat jasa itu sendiri. Ide untuk membuat Traveloka muncul ketika Ferry masih bersekolah di Boston, di mana dia sering menemui kesusahan untuk mereservasi perjalanannya pulang.

Ferry yang sekarang masih berumur 29 tahun memiliki filosofi bahwa bila jasa yang dibuatnya memiliki kualitas yang baik, maka pengguna akan datang dengan sendirinya. Traveloka tidak membuat publik berapa banyak dana yang dimiliki persuhaan, akan tetapi perusahaan ini sudah mendapatkan suntikan dana dari East Ventures  dan Global Founders Capital.

Nadiem Makarim, Founder & CEO GO-JEK

Nadiem Makarim, Founder dan CEO GO-JEK
Nadiem Makarim, Founder dan CEO GO-JEK (Source: Inovasee)

Siapa yang tidak kenal GO-JEK? Perusahaan yang dimulai pria berumur 32 tahun ini telah sangat sukses meningkatkan kehidupan banyak rakyat Indonesia. GO-JEK adalah solusi permasalahan logistik yang sangat Indonesia sifatnya, dengan menggunakan ojek yang dapat menyelinap di antara kemacetan kota-kota di Indonesia (Source: GO-JEK).

Gojek yang sekarang bukan hanya mengurusi transportasi, tetapi juga pengiriman barang dan jasa ini telah sukses menciptakan ratusan ribu hingga jutaan lapangan kerja di Indonesia. Kesuksesan startup kebanggan Indonesia ini telah memberikannya tahta sebagai satu-satunya startup yang mendapat gelar sebagai sebuah unicorn di Indonesia. Gelar bergengsi ini diberikan untuk startupyang memiliki potensial luar biasa besar hingga perusahaan tersebut mendapatkan pendanaan lebih dari US$ 1 milyar. GO-JEK sendiri dihargai sebesar US$ 1.3 milyar atau sekitar Rp 17 triliun (Source: Tech in Asia).

Nadiem memulai GO-JEK saat dia berumur 26 tahun, di mana pada saat itu dia sudah lulus gelar Master of Business Administration dari universitas ternama Harvard. Dia juga sudah sempat bekerja sebagai konsultan di McKinsey yang merupakan perusahaan Management Consulting yang paling bergengsi di dunia (Source: LinkedIn).

Adamas Belva Syah Devara, Co-Founder & CEO Ruang Guru

Adamas Belva (CEO) dan Iman Usman (Chief of Product), Co-Founders Ruangguru
Adamas Belva (CEO) dan Iman Usman (Chief of Product), Co-Founders Ruangguru (Source: CHIP ID)

Pintar (jenius mungkin), memiliki kepemimpinan tinggi, dan sangat peduli akan pendidikan mungkin adalah 3 hal yang anda pikirkan begitu anda melihat akun linkedin (Source: LinkedIn) pria kelahiran tahun 30 Mei 1990 ini. Bagaimana tidak, dengan umurnya yang masih muda ini, dia sudah lulus dari NTU (Nanyang Technological University), Stanford, dan Harvard. Pria berumur 26 tahun ini juga sudah memiliki pengalaman kerja di perusahaan-perusahaan blue chips seperti McKinsey dan Goldman Sachs.

Ternyata Belva tidak hanya dirinya saja yang sukses dalam bidang pendidikan dan pekerjaan. Merasa bahwa pendidikan di Indonesia sangat tidak merata kualitasnya, Belva dan Iman Usman menciptakan Ruang Guru yang membawa edukasi ke platform online.

Dengan ide cemerlangnya ini, Belva berhasil membuat edukasi di Indonesia lebih merata dengan memberikan akses ke edukasi berkualitas dengan harga yang relative murah. Saat ini sudah terdaftar sekitar 23.000 pengajar di perusahaan yang dimulai di tahun 2014 ini. Untuk masalah pendanaan, walaupun Ruang Guru tidak membuat publik berapa dana yang mereka miliki, dikabarkan mereka sudah berhasil menarik dana di kisaran milyaran rupiah (Source: Tech in Asia).

Yang Muda Yang Berkarya

Sudah jelas bahwa generasi Millennial memiliki caranya sendiri dalam merajut masa depannya. Generasi yang terkesan gila teknologi ini terbukti berhasil dalam menggunakan network yang ada di genggaman tangannya untuk sesuatu yang sifatnya sangat positif. Dan walaupun para Millennial terkadang terkesan terlalu ambisius, gejolak masa muda inilah yang ternyata berhasil membawa perubahan signifikan bagi bangsa Indonesia. Bila hari ini mereka dapat mengubah wajah Indonesia, sangat mungkin juga para Millennial ini berhasil mengubah wajah dunia di masa depan.

Tentang Penulis

Steven Kester Yuwono

Steven Kester Yuwono adalah CTO dan Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Saat ini Kester sedang menyelesaikan studi PhD ilmu komputer di bidang Natural Language Processing, dimana Kester berharap aplikasi dari risetnya dapat membawa dampak positif di bidang kesehatan. Kester yang juga merupakan antusias gitar dan badminton ini juga memiliki minat besar dalam menjelajahi bagaimana teknologi dapat membawa perubahan di berbagai industri.