Kecerdasan Buatan Melampaui Manusia. Berbahaya?

Baru saja 2 minggu lalu, sebuah program kecerdasan buatan (juga disebut Artificial Intelligence atau disingkat AI) telah berhasil menaklukkan pemain-pemain profesional game populer Dota 2 seperti Sumail, Arteezy, dan Dendi,┬ánama-nama familiar bagi pemain kawak Dota 2. Program kecerdasan buatan ini langsung menjadi sorotan publik setelah ditayangkan bermain secara live (Source: OpenAI) melawan dan mengalahkan salah satu pemain Dota 2 terbaik di dunia, Danil ‘Dendi’ Ishutin, di salah satu acara spesial The International. Setiap tahun, event bernama The International┬ádiselenggarakan oleh Valve untuk bertandingnya 16 tim Dota 2 terbaik dunia. Tahun ini, event tersebut digelar di Seattle, Amerika Serikat, dengan total hadiah sebesar 24 juta US Dolar atau setara dengan 320 milyar Rupiah (Source: dota2.com).

Program AI tersebut didalangi oleh perusahaan startup nonprofit bernama OpenAI yang dibangun oleh Elon Musk, CEO dan pendiri dari Tesla, SpaceX, dan Neuralink. Elon Musk telah bergelut dalam bidang AI sejak mendirikan Tesla di tahun 2003 (Source: Tesla), memproduksi mobil elektrik tanpa bahan bakar yang dapat mengemudikan diri sendiri tanpa bantuan manusia. Elon Musk mendirikan OpenAI pada tahun 2015 dengan tujuan untuk membangun AI yang berdampak positif bagi dunia dan mengutamakan kepentingan publik. Beliau juga baru saja mendirikan Neuralink, perusahaan yang bertujuan untuk menemukan alat yang dapat menghubungkan otak manusia dengan komputer.

Apabila kemenangan program AI ini terdengar sederhana dan biasa saja, mari kita simak perjalanan dan perkembangan AI dari tahun 1996 hingga sekarang.

Catur – Deep Blue (1996-1997)

Deep Blue adalah nama program AI milik IBM yang mempunyai kemampuan bermain catur setara dengan pemain kelas dunia. Pada saat itu, Garry Kasparov adalah pemain catur terbaik di dunia. Di babak pertama pada tahun 1996, Kasparov menang melawan Deep Blue dengan skor 4-2. Namun pada tahun 1997, IBM meminta rematch (pertandingan ulang) kepada Kasparov setelah melakukan perbaikan terhadap Deep Blue dan akhirnya berhasil mengalahkan Kasparov dengan skor 3.5-2.5 (0.5 poin diberikan kepada dua pihak apabila terjadi draw/seri). Ini menjadi sejarah dan prestasi pertama bahwa program AI dapat mengalahkan manusia di dalam permainan yang cukup kompleks seperti catur. Dibutuhkan metode yang sangat prima untuk mengajarkan program AI bermain catur dengan memprediksi langkah lawan dan menghitung resiko setiap gerakan yang diambilnya. Seringkali kesalahan gerakan tidak merugikan secara langsung, namun pelan-pelan terlihat dalam beberapa langkah selanjutnya, pemikiran yang sangat rumit untuk dilakukan oleh sebuah program komputer. Walaupun beredar rumor bahwa ada kecurangan dalam permainan di babak kedua yang dilakukan oleh tim IBM (Source: Time), adanya program AI yang dapat mengimbangi pemain catur dunia sudah menjadi prestasi yang gemilang pada jaman itu.

Garry Kasparov vs Deep Blue
Garry Kasparov vs Deep Blue (Source: Washington Post)

Jeopardy – Watson (2011)

Jeopardy adalah sebuah game dan acara televisi dimana kontestan diberikan sebuah pertanyaan seputar dunia dan harus menjawabnya. Pertanyaan dan jawaban dalam Jeopardy menggunakan Bahasa Inggris, tantangan yang sangat besar bagi sebuah program komputer. Tetapi Watson, program AI milik IBM, telah membuktikan bahwa ia berhasil menang melawan dua pemain terbaik dan juara bertahan Jeopardy, yaitu Ken Jennings dan Brad Rutter (Source: The New York Times). Watson mampu belajar dan mengingat berbagai macam informasi seputar dunia dari banyak sumber informasi digital, lalu menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam waktu yang sangat singkat saat bermain game Jeopardy. Hal ini membuktikan bahwa komputer telah dapat memahami bahasa manusia secara mendalam, sesuatu yang terdengar seperti mimpi. Bayangkan, pada suatu hari nanti kita akan dapat berdialog dengan komputer atau robot menggunakan bahasa sehari-hari seperti Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Sangat menakjubkan dan menakutkan bukan?

Go – AlphaGo (2016)

Go adalah permainan menggunakan papan (seperti catur) yang berasal dari China 3000 tahun silam. Peraturannya sangat sederhana, setiap pemain bergiliran untuk meletakkan batu putih atau hitam di atas papan, berusaha untuk menangkap batu milik lawan atau mengelilingi daerah kosong untuk mendapatkan poin. Akan tetapi ada banyak pilihan langkah dalam bermain Go, yaitu ada 10^170 (10 dengan 170 banyaknya angka nol) kemungkinan konfigurasi papan. Ini berarti Go adalah permainan yang 10^100 (10 dengan 100 banyaknya angka nol) kali lebih kompleks dibanding catur (Source: DeepMind). Program AI AlphaGo dibuat oleh tim Google DeepMind, menggunakan teknik artificial neural network atau jaringan syaraf buatan. Metode ini meniru jalannya informasi di jaringan syaraf otak manusia. Program AI ini belajar bermain Go dengan cara bermain dengan dirinya sendiri ribuan kali dan berusaha mencari kelemahan dan kesalahan diri sendiri. Lalu program AI ini akan membenahi strateginya dan belajar dari kesalahan, pelan-pelan menjadi lebih baik dan akhirnya melampaui kemampuan pemain manusia kelas dunia. Di Seoul, Korea Selatan, tahun 2016, AlphaGo berhasil mengalahkan pemain Go professional, Lee Sedol, dengan skor 4-1. Pertandingan ini telah dilihat lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia. Selain itu, AlphaGo baru saja bertanding dan menang melawan pemain Go nomor satu di dunia, Ke Jie (Source: Wired). Sebuah prestasi yang sangat membanggakan dan juga menakutkan bukan?

Lee Sedol vs AlphaGo
Lee Sedol vs AlphaGo (Source: DeepMind)

Dota 2 – OpenAI (2017)

Kemenangan dan kemajuan AI dalam permainan Dota 2 adalah pertanda bahwa artificial general intelligence (AGI) atau kecerdasan umum buatan telah semakin dekat. AGI adalah kecerdasan AI dimana dia dapat melakukan tugas apapun yang dapat dilakukan oleh manusia. Permainan Dota 2 adalah permainan yang amat sangat rumit (jika dibandingkan catur, Jeopardy, dan Go) dan sangat mirip dengan dunia nyata. Di dalam Dota 2, pemain dapat mengontrol sebuah karakter (hero) yang dapat berjalan dengan bebas di dalam dunia 2D, dan melakukan berbagai aksi seperti membeli barang, bersembunyi di balik pohon, menggunakan kekuatan rahasia, membunuh monster, dan membunuh hero lawan. Dota 2 tergolong permainan yang rumit bahkan untuk manusia sekalipun (Source: OpenAI).

Yang lebih mengerikan lagi, program AI milik OpenAI ini tidak pernah diajari cara bermain Dota 2 atau pun melihat pemain manusia yang sedang bermain. Program AI ini dibiarkan bermain melawan diri sendiri (seperti AlphaGo) tanpa instruksi apapun (Source: Ars Technica). Jadi program tersebut berusaha untuk menjelajahi dunia dan melakukan segala aksi yang mungkin di dalam game sampai akhirnya menemukan cara-cara brilian untuk memenangkan pertandingan 1 vs 1 melawan pemain kelas dunia. Program tersebut juga menemukan teknik bermain yang lazim digunakan oleh pemain profesional tanpa diajarkan secara khusus (Source: OpenAI).

Dendi vs OpenAI
Dendi vs OpenAI (Source: OpenAI)

Akhir Kata

Setelah membaca perjalanan AI di atas, kita harusnya sadar bahwa AI telah berkembang dengan sangat pesat, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun perkembangan ini terlihat seperti kemajuan positif, kita tidak boleh lupa bahwa kemampuan AI yang terlampau kuat dan tidak terkendali dapat menjadi berbahaya. Bayangkan sebuah robot yang mampu melakukan semua hal yang dapat dilakukan manusia, lalu diperintah pemiliknya untuk melakukan tindakan kriminal. Berpikir lebih jauh lagi, bayangkan sebuah robot yang bisa berpikir, berbicara, dan hidup seperti layaknya manusia tanpa diajari apapun. Robot yang mempunyai kemampuan seperti manusia, atau bahkan lebih pintar. Apakah yang dapat mencegah robot-robot ini berpikir bahwa keberadaan manusia adalah ancaman bagi mereka? Dan pada akhirnya membinasakan umat manusia?

Tentang Penulis

Steven Kester Yuwono

Steven Kester Yuwono adalah CTO dan Co-Founder dari Jurnal Kebenaran. Saat ini Kester sedang menyelesaikan studi PhD ilmu komputer di bidang Natural Language Processing, dimana Kester berharap aplikasi dari risetnya dapat membawa dampak positif di bidang kesehatan. Kester yang juga merupakan antusias gitar dan badminton ini juga memiliki minat besar dalam menjelajahi bagaimana teknologi dapat membawa perubahan di berbagai industri.